Kamis, 06 April 2017

Sedekah Sehari Seribu || Novi Srikandi Almuzakki

Kisah sedekah ini diambil dari kisah Farhinindri. Semoga kita yang membaca kisah ini bisa terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan sedekah.
Sedekah tidak perlu nunggu gajian dan jumlahnya bulat Rp 100.000 atau Rp 500.000 atau bahkan Rp 1.000.000.
Bagi karyawan bergaji standar UMR dengan 2 orang anak seperti saya rasanya jika sedekah harus menunggu 3 nilai bentuk bulat tersebut diatas bisa-bisa sebelum jumlahnya genap sudah keburu terpakai untuk kebutuhan-kebutuhan yang tak kunjung habis. Nah, dengan adanya program sedekah sehari seribu ini insya Allah sedekah bukan lagi nazar yang selalu berhasil digagalkan syaitan. Terlebih lagi ini bulan Ramadhan, jadi bisa melatih anak-anak saya terutama anak sulung saya yang duduk di bangku sekolah dasar untuk mulai menyisihkan uang jajannya -yang toh tidak dibelanjakannya saat disekolah karena memang dia sudah berlatih puasa sehari penuh- untuk disedekahkan.
Sedekah mulai saya agendakan menjadi menu utama pembelajaran pendidikan emotional intelligence anak-anak saya. Dengan melatih anak-anak menjadi pribadi yang dermawan nantinya secara otomatis akan membuatnya menjadi pribadi tangguh dan pekerja pintar yang bekerja tidak hanya memikirkan dirinya sendiri namun juga kebutuhan saudara-saudaranya, khususnya kaum muslimin yang membutuhkan.
Tidak perlu repot browsing penyalur-penyalur sodaqoh atau lembaga zakat untuk mendonasikan sedekah sehari seribu kami, kebetulan didekat tempat tinggal kami ada beberapa yayasan panti asuhan sehingga bisa disalurkan kesana. Kunjungan langsung ke tempat-tempat seperti panti asuhan akan menjadi wisata rohani yang mendidik untuk anak-anak. Dan juga dengan mendonasikan langsung dapat melatih orang tua dan anak untuk belajar komitmen serta managemen sedekah bersama, lebih memperkuat niat dan lebih jeli menerawang lingkungan sekitar untuk mengetahui siapa saja yang membutuhkan sedekah dari kalangan terdekat.
Mari bersedekah mari peluk saudara-saudara kita yang membutuhkanmari jemput ridho Allah SWT, mari bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskinyatim piatudhuafa.

Keutamaan Sedekah Untuk Orang Tua Setelah Mereka Meninggal || Novi Srikandi Almuzakki

Seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya telah meninggal dunia. Diantara cara seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya adalah dengan bersedekah. Bersedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia, memiliki berbagai keutamaan. Apalagi sedekah tersebut diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskintentu akan sangat berkah.
Kesempatan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) masih terbuka bagi anak, meskipun orangtuanya telah meninggal dunia. Salah satu bentuknya, dengan bersedekah untuk mereka. Yakni bersedekah yang diniatkan (pahalanya) untuk orangtua.
Berikut ini hadits-hadits shahih yang menjelaskan keutamaan sedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak. Saya menduga, jika ia bisa bicara, ia akan bersedekah. Apakah ia bisa mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari)
إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنِّى أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَلِىَ أَجْرٌ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga, jika ia bisa berbicara ia akan bersedekah, apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya” (HR. Muslim)
أَنْبَأَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Sedekah untuk orang tua Ibnu Abbas memberitakan kepada kami bahwa Sa’ad bin Ubadah r.a. sedang tidak ada di tempat ketika ibunya meninggal. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedang saya tidak di sana. Apakah sesuatu berguna untuknya, jika kusedekahkan untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya saya persaksikan kepadamu bahwa kebunku Al Mikhraf menjadi sedekah untuk ibuku.” (HR. Bukhari)
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ أَبِى مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ
Seseorang berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan tidak berwasiat, apakah sedekahku bisa menebus (kesalahan) nya?” Beliau menjawab, “Ya” (HR. Muslim)
Dari hadits-hadits di atas, keutamaan sedekah yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan berkaitan dengan sedekah untuk orangtua yang telah meninggal dunia setidaknya ada 3 poin sebagai berikut:
  1. Pahala sedekah sampai kepada orangtua yang telah meninggal dunia.
  2. Sedekah tersebut bermanfaat/berguna bagi orangtua yang telah berada di alam barzah.
  3. Sedekah tersebut dapat menjadi penebus kesalahan orangtua
Demikian artikel tentang “Keutamaan sedekah untuk orang tua setelah mereka meninggal” ini, semoga dapat memberikan manfaat baik bagi kita semua.

Ikhlas Dalam Sedekah Itu Wajib || Novi Srikandi Almuzakki

Ikhlas merupakan syarat mutlak dalam bersedekah. Pasalnya dengan niat ikhlas karena Allah SWT maka amalan tersebut dapat diterima. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut;
Hendaknya tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan.
Maksudnya, sedekah harus dilakukan benar-benar ikhlas karena Allah SWT. Meskipun sedekah tersebut diberikan dan diketahui oleh orang banyak bahkan diumumkan kepada khalayak ramai. Namun jika tetap ikhlas karena Allah SWT dan tanpa diniatkan riya maka pahalanya akan utuh dan dapat diterima.
Menurut Masdar Helmi, dalam Infak dan Sedekah Sumber Dana dan Kekuatan Umat Islam yang diterbitkan Al-Ma’arif,amalan sedekah ini mengajarkan umat manusia untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan seperti dhuafafakir miskin,dan yatim piatu, dan hakikatnya merupakan realisasi dari menanamkan ajaran berbuat kebajikan dan merupakan implementasi dari ciri keimanan seseorang. Pasalnya, kata sedekah dalam Al-Qur’an sering dirangkaikan dengan iman dan salat.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 261 yaitu;
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah laksana sebuah biji (benih) yang menumbuhkan jadi tujuh tangkai disetiap tangkai seratus buah. Allah melipatgandakan (ganjaran-Nya) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi maha Mengetahui.”
Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 265 juga disebutkan;
”Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah SWT dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi disiram oleh hujan lebat. Maka, kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai), dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

Sedekah Penyembuh Kanker || Novi Srikandi Almuzakki


Tokoh dalam kisah ini adalah seorang lelaki kaya raya, dia adalah pengusaha besar. Suatu ketika dia terkena penyakit kronis yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Dia lalu pergi memeriksakan diri ke rumah sakit terkenal. Menurut diagnosa dokter, ditemukan penyakit kanker kronis dalam tubuhnya, dan prosentase kesembuhannya sangat tipis sekali. Para dokter menyarankan agar dia mau berobat ke luar negeri supaya mendapat perawatan intensif. Seketika itu juga lelaki itu berangkat ke luar negeri untuk menjalani pemeriksaan dan hasilnya sama dengan diagnosa dalam negeri. Para dokter di rumah sakit itu lalu menyarankan agar dia mau melakukan operasi untuk menghilangkan anggota tubuhnya yang digerogoti kanker.
Akan tetapi lelaki tersebut meminta para dokter agar mau memberikan tenggang waktu untuk pulang ke Negara asalnya terlebih dahulu. Dia berkeinginan untuk mengurus segala sesuatunya, dan berwasiat kepada anggota keluarganya, jika ternyata setelah operasi ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya lelaki itupun pulang kenegara asalnya lalu mengurus segala sesuatunya. Tidak lupa dia menuliskan wasiat dan menitipkan anggota keluarganya kepada orang yang dipercayainya untuk menjaga keluarganya. Namun, dia sama sekali tidak memberitahukan kepada keluarganya permasalahan yang sedang dia hadapi.
Suatu ketika dipertengahan jalan menuju rumahnya, pandangannya tertuju kepada seorang perempuan tua yang berdiri disamping tempat penyembelihan binatang. Perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer di sebelah tempat penyembelihan. Lelaki itu lalu menghentikan langkahnya dan menemui perempuan tua itu. Dia bertanya kenapa perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer. Perempuan itu lalu bercerita kepadanya, bahwa anak-anaknya menjadi yatimsepeninggal suaminya. Keluarga ini sangat miskin dan tidak punya uang untuk membeli daging. Yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer untuk dimasak sebagai ganti dari daging. Lelaki itu sangat tersentuh mendengar penuturan kondisi yang dihadapi perempuan itu. Dia lalu menyedekahkan uangnya dalam jumlah lumayan banyak kepada perempuan itu. Selanjutnya dia memberikan uang kepada tukang sembelih dalam jumlah yang lumayan banyak lalu memintanya untuk mengirimkan daging kepada  perempuan itu setiap mingggunya. Perempuan itu sangat berterimakasih kepada lelaki itu. Tidak lupa dia mendoakan lelaki itu lalu permisi dan meninggalkan tempat. Sesampainya dirumah perempuan itu kemudian bercerita kepada anak-anaknya tentang kebaikan seorang lelaki yang menolong keluarganya. Tidak hanyak itu perempuan itu meminta anak-anak yatim untuk mendoakan laki-laki yang menolongnya tadi.
Beberapa hari kemudian, lelaki itu pergi ke luar negeri untuk menjalani operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, terlebih dahulu dokter memeriksa lelaki itu kembali. Hasilnya sangat mencengangkan. Berubahlah raut muka dokter itu, dan dengan nada marah dia bertanya kepada lelaki itu, “Apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya untuk menjalani pengobatan atas penyakitmu itu?”
Lelaki itu menjawab, “Tidak.”
Dokter itu berkata, “Bohong! Jujurlah padaku, apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya atau tidak?”
Lelaki itu menjawab, “Aku bersumpah, demi Allah aku sama sekali tidak pergi ke rumah sakit lainnya, Sebenarnya ada apa engakau bertanya seperti ini?”
Dokter itu lalu menjawab, “Pemeriksaan dan diagnosa terbaru menunjukkan tubuhmu sama sekali sudah bersih dari kanker. Keadaanmu sekarang ini sehat-sehat saja.”
Lelaki itu hampir tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh dokter itu. Dia tidak kuasa membendung air matanya yang meleleh karena bahagia. Dia lalu bertanya kepada dokter itu apakah benar apa yang barusan dikatakan kepadanya. Dokter itu menjawab dan bersumpah bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.
Setelah menyadari atas apa yang dialaminya ini, lelaki itu lalu bersyukur memanjatkan puji kepada Allah. Kemudian dia pulang ke Negara asalnya dalam keadaan sehat wal afiat. Dia menceritakan kepada anggota keluarganya, dan mereka semua sangat takjub terhadap peristiwa yang dialami lelaki itu.
Dalam hal ini lelaki itu berkata “Allah telah menyembuhkan aku berkat doa yang dipanjatkan oleh perempuan tersebut, karena aku telah bersedekah kepada anak-anak yatimnya.”
Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memelihara keluarga miskin sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Subhanallah….Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw “Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah.”

Rabu, 05 April 2017

Sedekah Untuk Anak dan Doa Untuk Kedua Orang Tua || Novi Srikandi Almuzakki


Kisah nyata diambil dari Fauzil Akbar. Beliau menceritakan keajaiban sedekah. Semoga dari tulisan ini kita dapat mengambil hikmahnya dan dapat pula mengamalkannya.
Saya punya pengalaman yang mungkin cukup buat kita tambah yakin tentang bukti kebesaran Allah. Yaitu tentang sedekah yang saya niatkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Kebetulan saya mewajibkan diri saya sendiri untuk menyantuni anak-anak yatim setiap bulan sebesar Rp. 500.000 niatnya buat kebaikan anak-anak saya sendiri. Ini ajaran saya dapatkan dari ustad kita ustad Yusuf mansur. Beliau pernah berkata kepada jama’ah melalui media televisi bahwa untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak yang ta’at kepada orang tua, sholeh dan sholehah, tidak menyusahkan orang tuanya,selalu mendoakan orang tuanya,dan dekat kepada Allah SWT adalah dengan cara menyantuni anak-anak yatim piatu. Ini adalah salah satu upaya kita sebagai orang tua, mestinya kita harus peka dengan nasib anak orang lain, terlebih anak yatim piatu yang jelas sudah tidak lagi mendapat kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Alhamdulillah Allah mengkaruniakan kami dua anak perempuan yang tentu sebagai orang tua, kami harus memberikan ajaran-ajaran yang positif,lingkungan yang sehat, dan pergaulan yang baik. Salah satu upaya saya adalah memberikan santunan kepada anak anak yatim piatu sebesar 500.000, atau masing-masing dari anak saya, saya sedekahkan Rp.250.000 x 2 = Rp500.000, dengan harapan menambah kebaikan hati dari anak-anak saya dan menutupi  dari sifat buruk.
Allahu Akbar walillahilhamd. Sampai saat inipun tetap saya bersedekah tiap bulan dengan imbalan Allah tetap melindungi saya, istri dan anak-anak saya sendiri. Tentu yang saya paling saya rasakan adalah anak-anak saya ta’at kepada kepada orang tuanya. Sopan santunnya terjaga, alhamdulillah lebih banyak sehat daripada sakitnya. Kalaupun sakit, itu hanya sakit yang ringan dan kemudian Allah berikan kesehatan lagi.walaupun ekonomi saat ini kadang sehat kadang sakit, saya tetap niatkan untuk istiqomah bersedekah untuk anak-anak saya agar Allah ridho dengan impian mereka, dan yang jelas saya ingin mewariskan yang paling istimewa yaitu anak-anak saya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, mendoakan orang tuanya setiap selesai sholat, membacakan Alfatihah buat kesehatan  selalu, mengasuh ketika sakit dengan tulus dan ikhlas.
Pokoknya saya tidak mau seperti yang dialami oleh umat yang sudah-sudah, ketika orang tuanya sudah tua, malah dibawa kepanti jompo. Walaupun orang tuanya tidak mempermasalahkannya, tetapi sesungguhnya hatinya luka, bahkan sangat terluka. Uang bukanlah ukuran untuk membahagiakan orang tua, tetapi perhatian, doa dan kasih sayang kepada orang tualah yang diharapkannya. Coba, apa yang bisa kita balas kepada orang tua kita? Tidak membentak orang tua saja dan berkata yang tidak menyakiti hatinya  sudah cukup membuat orang tua kita senang. Karena kelak kita akan menjadi orang tua bagi anak-anak kita.
Kalau sudah membicarakan orang tua, air mata ini sudah gak sanggup ditahan lagi, dosa saya banyak sekali terhadap orang tua saya, terlebih perbuatan saya yang bisa menularkan dosa kepada orang tua saya. “Ya Robb, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba dan kedua Orang Tuaku. Dosa kedua orang tua dari istriku. Sungguh hamba merasa tidak cukup membalas kebaikan mereka, tapi cukupkanlah ya Allah dengan doa doa tulus dari kami sebagai anak-anaknya semoga mereka sehat total, panjang umur,yaitu umur yang banyak beribadah kepadaMu dan kumpulkanlah kami di SorgaMu dengan keRidhoanMu. Ya Robb, janganlah engkau panggil kami sebelum kami betul-betul bertaubat nasuha. Aamiin”. Semoga setelah teman-teman yang membaca artikel ini, mari kita membaca Alfatihah buat beliau-beliau. Karena sejahat-jahatnya orang tua kita kepada kita, mereka pasti tetep sayang kita. Alfatihah buat mereka.

Selasa, 04 April 2017

Sedekah Tergantung Niat || Novi Srikandi Almuzakki

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi SAW di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ
“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422).
Kisah di atas menceritakan bahwa ayah Ma’an (Yazid) ingin bersedekah kepada orang fakir miskin. Lantas datang anaknya (Ma’an) mengambil sedekah tersebut. Orang yang diwakilkan uang tersebut di masjid tidak mengetahui bahwa yang mengambil dinar tadi adalah anaknya Yazid. Kemungkinan lainnya, ia tahu bahwa anak Yazid di antara yang berhak mendapatkan sedekah tersebut. Lantas Yazid pun menyangkal dan mengatakan bahwa uang tersebut bukan untuk anaknya. Kemudian hal ini diadukan pada Nabi SAW dan beliau pun bersabda, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati”.
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1.      Setiap amalan tergantung pada niatan setiap orang. Jika seseorang telah meniatkan yang baik, maka ia akan mendapatkannya. Walaupun Yazid tidak berniat bahwa yang mengambil uangnya adalah anaknya. Akan tetapi anaknya mengambilnya dan anaknya tersebut termasuk di antara orang-orang yang berhak menerima. Oleh karena itu, Nabi SAW katakan, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan.”
2.      Setiap orang akan diganjar sesuai yang ia niatkan walaupun realita yang terjadi ternyata menyelisihi yang ia maksudkan. Termasuk dalam sedekah, meskipun yang menerima sedekah adalah bukan orang yang berhak.
3.      Hadits di atas adalah sebagai kaedah untuk beberapa masalah:
a.       Bila seseorang menyerahkan zakat kepada orang yang awalnya ia nilai berhak menerima, namun ternyata ia adalah orang yang berkecukupan (kaya) dan tidak pantas menerima zakat, maka zakatnya tetap sah. Kewajiban baginya telah lepas. Karena awalnya ia berniat memberikan pada yang berhak, maka ia akan dibalas sesuai yang ia niatkan.
b.      Jika seseorang mewakafkan rumahnya yang berukuran kecil, namun ternyata yang ia ucapkan diisyaratkan pada rumah yang besar, beda dengan yang ia niatkan, maka yang teranggap saat itu adalah apa yang ia niatkan walaupun menyelisihi ucapannya. Karena setiap orang tergantung pada apa yang ia niatkan.
4.      Boleh menyerahkan sedekah untuk anak dengan syarat tidak menggugurkan kewajiban nafkah. Namun jika sedekah tersebut dimaksudkan pula untuk nafkah, maka seperti ini tidaklah sah karena ia berniat menggugurkan yang wajib. Misalnya, jika ayah melunasi utang anaknya dan ayahnya mengambil dari sedekah (zakat), maka seperti itu boleh karena anaknya adalah keluarga dia yang paling dekat yang lebih pantas menerima daripada orang yang jauh.
5.      Sedekah yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah sedekah sunnah dan sedekah sunnah boleh diserahkan pada anak (furu’). Sedangkan sedekah wajib tidaklah boleh diserahkan pada anak (furu’) atau pada orang tua (ushul).
6.      Hadits ini juga menunjukkan bolehnya zakat atau sedekah diwakilkan penyerahannya pada orang lain.
7.      Ayah tidak boleh menarik kembali sedekah yang sudah diambil oleh anaknya, walau berbeda dengan apa yang ia niatkan.
8.      Tidaklah termasuk durhaka jika anak mengadukan ayahnya untuk mengenalkan kebenaran.
Demikian faedah sederhana dari hadits Ma’an dan Yazid, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin,  Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, hal. 31-32.
Dr. Musthofa Al Bugho, dll, Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhish Sholihin, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 15.
Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, hal. 39-41.

The Virtue Of Charity, Infaq, and Zakat || Novi Srikandi Almuzakki

Sedekah memiliki sejumlah keutamaan dan keistimewaan. Dalam surah at-Taubah ayat 103 yang berbunyi : “Ambillah Zakat dari sebagain harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Sedekah bertujuan untuk menyucikan harta dan diri muzaki agar menjadi penenteram batin mereka. Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menyatakan, sedekah itu merupakan bukti keimanan seseorang dan mereka yang bersedekah akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah SWT (HR al-Baihaqi).
Di antara keutamaan sedekah antara lain:
  1. Orang bersedekah berhak mendapat rahmat Allah seperti dalam surat al-A’raf ayat 56 yang berbunyi : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaiki-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. Sedekah akan menjadi naungan di akhirat saat tidak ada naungan, kecuali naungan Allah. “Sesungguhnya, sedekah itu memadamkan panasnya kubur dan hanyalah seorang Mukmin yang mendapatkan naungan pada hari kiamat nanti dengan sedekahnya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
  2. Sedekah memadamkan murka Ilahi. “Sedekah rahasia (tersembunyi) itu memadamkan amarah Ilahi.” (HR Thabrani dan Ibnu Asakir).
  3. Sedekah menolak mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk). “Akhlak buruk adalah kejelekan, kuat ingatan adalah mengembangkan, dan sedekah menolak mati suul khatimah.” (HR al- Baihaqi).
  4. Sedekah menjadi sebab disembuhkannya penyakit. “Obatilah orang-orang sakit dengan sedekah, bentengilah hartamu dengan zakat, dan sesungguhnya zakat itu menolak peristiwa mengerikan dan penyakit.” (HR Ad-Dailami dari Ibnu Umar).
  5. Sedekah itu akan mendapatkan keberkahan dalam hidup dan tambahan rezeki, “Barang siapa menafkahkan hartanya maka akan diberi keberkahan darinya.” Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta dan tidaklah pemberian maaf itu kecuali ditambah kemuliaan oleh Allah dan tidaklah seseorang tawadhu karena Allah, kecuali Dia akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim).
Ramadhan adalah bulan termulia dan utama. Karena itu, bersedekah di bulan itu akan makin berlipat pahala dan keutamaannya. “Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Turmudzi dari Anas).
Di antara keutamaan sedekah pada Ramadhan, antara lain, pertama, Allah SWT menebar rahmat dan ampunan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang dermawan pada fakir miskin dan anak yatim piatu maka Allah akan membalasnya dengan kedermawanan-Nya. Kedua, berkumpulnya puasa dan sedekah akan memperoleh balasan surga. “Sesungguhnya, di surga terdapat ruangan-ruangan yang di dalamnya bisa dilihat dari luar dan luarnya bisa dilihat dari dalam. Ditanyakan kepada beliau, untuk siapakah ruangan-ruangan itu? Rasulullah menjawab, ‘Ruangan itu diperuntukkan bagi orang yang bicaranya baik, memberi makanan, selalu berpuasa, dan shalat malam saat orang-orang tertidur.” (HR Ibnu Khuzaimah). Ketiga, puasa dan sedekah adalah ibadah yang paling hebat dalam menghapuskan dosa dan menjauhkan kita dari neraka. “Sedekah itu menghapuskan dosa seperti air memadamkan api.” (HR At-Tirmidzi). Sedangkan, puasa membersihkan dosa dan membakarnya. Keempat, sedekah menambah solidaritas sosial antara anggota masyarakat.