“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“. (QS. Al-Hadid: 18) “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).
Seorang ibu berdiskusi dengan putri yang tinggal semata wayang tentang target sedekah. Wanita separuh abad itu kebingungan mengalokasikan kelebihan rezeki yang didapat untuk disedekahkan kemana. Sebab sang ibu tidak begitu percaya dan menjadi paranoid karena pernah membagi kelebihan hartanya pada suatu panti asuhan. Ternyata di panti itu banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan hartanya. Bukannya disalurkan pada anak yatim piatu, amal sedekah itu justru dihabiskan oleh para pengurus panti. Itulah sebabnya sang ibu menjadi kehilangan kepercayaan dan lebih berhati-hati dalam bersedekah.
Lalu ia bertanya pada putrinya. Ibu satu ini memang dikenal demokratis dan sering meminta saran pada putrinya. Dibandingkan dengan suaminya yang pendiam dan terkesan dingin, putrinya lebih mudah diajak berdiskusi.
“Sayang, Mama kadang bingung dan nggak percaya tiap kali mau kasih uang atau barang akhir-akhir ini. Mama kan pernah ditipu. Harus kemana ya?” Sang putri menjawab yakin. “Ke rumah singgah khusus anak-anak kanker aja, Ma. Kan kita udah kenal. Waktu ultah September kemarin, aku juga ke sana. Aduh…jadi kangen anak-anak itu. Mereka udah sembuh belum, ya? Apa masih kemoterapi?”
“Nggak mau. Di sana nggak didoain. Anak-anak sama keluarga pengasuh rumah itu nggak kasih doa.”
Jawaban itu membuat sang putri kecewa. Ia berpikir, jadi selama ini sedekah tujuan utamanya untuk meminta doa? Membuat syukuran, membagi makanan, memberi uang, agar didoakan oleh orang-orang kurang mampu?
Contoh kasus di atas memberi pelajaran berharga. Bahwa tujuan bersedekah atau berbagi bukan untuk meminta doa atau feedback berupa doa dari orang yang menerima sedekah. Melainkan tujuan utama sedekah semata karena Allah. Makna sedekah sebagai pembersih harta dan amalan pada Illahi Rabbi jangan disalahgunakan. Bersedekah hanya karena ingin meminta doa menjadi berkurang maknanya.
Kembali ke kasus tadi, sang putri berusaha mengingatkan ibunya secara halus. Sayangnya, sang ibu yang perfeksionis itu tak suka dikritik. Beliau memang tersenyum, mengangguk, namun pada akhirnya berkata.
“Nanti Mama cari yayasan, panti, atau tempat lain yang Mama suka dan bisa amanah.”
Gadis itu menjadi gemas. Dalam hati ia menyesali sikap ibunya. Celakanya, ada sifat perfeksionis itu yang menurun padanya.
Sementara sang ibu keras pada prinsipnya, gadis itu pun memiliki prinsip yang kuat pula. Ia tetap ingin datang ke rumah khusus anak pengidap kanker itu jika sudah ada waktu luang. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak lucu dan polos yang tengah diuji penyakit berbahaya itu. Sementara itu, sang ibu juga tak habis pikir dengan niat anak tunggalnya. Mengapa perhatian sekali pada orang-orang sakit? Sejak kecil, ia telah memperhatikan bahwa putrinya memberi perhatian dan kasih sayang lebih besar pada orang yang sakit. Entah itu penyakit fisik maupun psikis.
Bersedekah harus dilakukan dengan niat yang tulus. Soal apakah si penerima sedekah akan mendoakan kita atau tidak, itu kembali pada niat mereka. Itu bukan lagi urusan atau kapasitas kita. Jika kita bersedekah hanya untuk minta didoakan, sama saja kita menuntut pamrih dari mereka.
Doa anak yatim piatu, fakir miskin, dan orang yang teraniaya atau terzhalimi memang baik. Bahkan doa orang yang teraniaya akan dikabulkan. Namun bukan berarti kita memanfaatkan kondisi mereka demi kepentingan pribadi.
Jangan ragu untuk bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta kekayaan. Justru Allah akan memberikan ganti berlipat ganda pada kita. Lebih istimewa lagi, harta kekayaan kita akan dibersihkan.
Jadi, segera luruskan niat dan mulailah menebar kebaikan untuk orang lain dengan tulus dan ikhlas.