Kamis, 06 April 2017

Sedekah Sehari Seribu || Novi Srikandi Almuzakki

Kisah sedekah ini diambil dari kisah Farhinindri. Semoga kita yang membaca kisah ini bisa terinspirasi dan termotivasi untuk melakukan sedekah.
Sedekah tidak perlu nunggu gajian dan jumlahnya bulat Rp 100.000 atau Rp 500.000 atau bahkan Rp 1.000.000.
Bagi karyawan bergaji standar UMR dengan 2 orang anak seperti saya rasanya jika sedekah harus menunggu 3 nilai bentuk bulat tersebut diatas bisa-bisa sebelum jumlahnya genap sudah keburu terpakai untuk kebutuhan-kebutuhan yang tak kunjung habis. Nah, dengan adanya program sedekah sehari seribu ini insya Allah sedekah bukan lagi nazar yang selalu berhasil digagalkan syaitan. Terlebih lagi ini bulan Ramadhan, jadi bisa melatih anak-anak saya terutama anak sulung saya yang duduk di bangku sekolah dasar untuk mulai menyisihkan uang jajannya -yang toh tidak dibelanjakannya saat disekolah karena memang dia sudah berlatih puasa sehari penuh- untuk disedekahkan.
Sedekah mulai saya agendakan menjadi menu utama pembelajaran pendidikan emotional intelligence anak-anak saya. Dengan melatih anak-anak menjadi pribadi yang dermawan nantinya secara otomatis akan membuatnya menjadi pribadi tangguh dan pekerja pintar yang bekerja tidak hanya memikirkan dirinya sendiri namun juga kebutuhan saudara-saudaranya, khususnya kaum muslimin yang membutuhkan.
Tidak perlu repot browsing penyalur-penyalur sodaqoh atau lembaga zakat untuk mendonasikan sedekah sehari seribu kami, kebetulan didekat tempat tinggal kami ada beberapa yayasan panti asuhan sehingga bisa disalurkan kesana. Kunjungan langsung ke tempat-tempat seperti panti asuhan akan menjadi wisata rohani yang mendidik untuk anak-anak. Dan juga dengan mendonasikan langsung dapat melatih orang tua dan anak untuk belajar komitmen serta managemen sedekah bersama, lebih memperkuat niat dan lebih jeli menerawang lingkungan sekitar untuk mengetahui siapa saja yang membutuhkan sedekah dari kalangan terdekat.
Mari bersedekah mari peluk saudara-saudara kita yang membutuhkanmari jemput ridho Allah SWT, mari bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskinyatim piatudhuafa.

Keutamaan Sedekah Untuk Orang Tua Setelah Mereka Meninggal || Novi Srikandi Almuzakki

Seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya telah meninggal dunia. Diantara cara seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya adalah dengan bersedekah. Bersedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia, memiliki berbagai keutamaan. Apalagi sedekah tersebut diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskintentu akan sangat berkah.
Kesempatan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) masih terbuka bagi anak, meskipun orangtuanya telah meninggal dunia. Salah satu bentuknya, dengan bersedekah untuk mereka. Yakni bersedekah yang diniatkan (pahalanya) untuk orangtua.
Berikut ini hadits-hadits shahih yang menjelaskan keutamaan sedekah untuk orang tua yang telah meninggal dunia:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ أُمِّى افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ ، فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak. Saya menduga, jika ia bisa bicara, ia akan bersedekah. Apakah ia bisa mendapatkan pahala jika saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari)
إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنِّى أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَلِىَ أَجْرٌ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan tidak sempat berwasiat. Saya menduga, jika ia bisa berbicara ia akan bersedekah, apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya” (HR. Muslim)
أَنْبَأَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Sedekah untuk orang tua Ibnu Abbas memberitakan kepada kami bahwa Sa’ad bin Ubadah r.a. sedang tidak ada di tempat ketika ibunya meninggal. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, sedang saya tidak di sana. Apakah sesuatu berguna untuknya, jika kusedekahkan untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya saya persaksikan kepadamu bahwa kebunku Al Mikhraf menjadi sedekah untuk ibuku.” (HR. Bukhari)
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ أَبِى مَاتَ وَتَرَكَ مَالاً وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ
Seseorang berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan tidak berwasiat, apakah sedekahku bisa menebus (kesalahan) nya?” Beliau menjawab, “Ya” (HR. Muslim)
Dari hadits-hadits di atas, keutamaan sedekah yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan berkaitan dengan sedekah untuk orangtua yang telah meninggal dunia setidaknya ada 3 poin sebagai berikut:
  1. Pahala sedekah sampai kepada orangtua yang telah meninggal dunia.
  2. Sedekah tersebut bermanfaat/berguna bagi orangtua yang telah berada di alam barzah.
  3. Sedekah tersebut dapat menjadi penebus kesalahan orangtua
Demikian artikel tentang “Keutamaan sedekah untuk orang tua setelah mereka meninggal” ini, semoga dapat memberikan manfaat baik bagi kita semua.

Ikhlas Dalam Sedekah Itu Wajib || Novi Srikandi Almuzakki

Ikhlas merupakan syarat mutlak dalam bersedekah. Pasalnya dengan niat ikhlas karena Allah SWT maka amalan tersebut dapat diterima. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut;
Hendaknya tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan.
Maksudnya, sedekah harus dilakukan benar-benar ikhlas karena Allah SWT. Meskipun sedekah tersebut diberikan dan diketahui oleh orang banyak bahkan diumumkan kepada khalayak ramai. Namun jika tetap ikhlas karena Allah SWT dan tanpa diniatkan riya maka pahalanya akan utuh dan dapat diterima.
Menurut Masdar Helmi, dalam Infak dan Sedekah Sumber Dana dan Kekuatan Umat Islam yang diterbitkan Al-Ma’arif,amalan sedekah ini mengajarkan umat manusia untuk berbagi kepada kaum yang membutuhkan seperti dhuafafakir miskin,dan yatim piatu, dan hakikatnya merupakan realisasi dari menanamkan ajaran berbuat kebajikan dan merupakan implementasi dari ciri keimanan seseorang. Pasalnya, kata sedekah dalam Al-Qur’an sering dirangkaikan dengan iman dan salat.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 261 yaitu;
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah laksana sebuah biji (benih) yang menumbuhkan jadi tujuh tangkai disetiap tangkai seratus buah. Allah melipatgandakan (ganjaran-Nya) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi maha Mengetahui.”
Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 265 juga disebutkan;
”Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah SWT dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi disiram oleh hujan lebat. Maka, kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai), dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

Sedekah Penyembuh Kanker || Novi Srikandi Almuzakki


Tokoh dalam kisah ini adalah seorang lelaki kaya raya, dia adalah pengusaha besar. Suatu ketika dia terkena penyakit kronis yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Dia lalu pergi memeriksakan diri ke rumah sakit terkenal. Menurut diagnosa dokter, ditemukan penyakit kanker kronis dalam tubuhnya, dan prosentase kesembuhannya sangat tipis sekali. Para dokter menyarankan agar dia mau berobat ke luar negeri supaya mendapat perawatan intensif. Seketika itu juga lelaki itu berangkat ke luar negeri untuk menjalani pemeriksaan dan hasilnya sama dengan diagnosa dalam negeri. Para dokter di rumah sakit itu lalu menyarankan agar dia mau melakukan operasi untuk menghilangkan anggota tubuhnya yang digerogoti kanker.
Akan tetapi lelaki tersebut meminta para dokter agar mau memberikan tenggang waktu untuk pulang ke Negara asalnya terlebih dahulu. Dia berkeinginan untuk mengurus segala sesuatunya, dan berwasiat kepada anggota keluarganya, jika ternyata setelah operasi ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya lelaki itupun pulang kenegara asalnya lalu mengurus segala sesuatunya. Tidak lupa dia menuliskan wasiat dan menitipkan anggota keluarganya kepada orang yang dipercayainya untuk menjaga keluarganya. Namun, dia sama sekali tidak memberitahukan kepada keluarganya permasalahan yang sedang dia hadapi.
Suatu ketika dipertengahan jalan menuju rumahnya, pandangannya tertuju kepada seorang perempuan tua yang berdiri disamping tempat penyembelihan binatang. Perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer di sebelah tempat penyembelihan. Lelaki itu lalu menghentikan langkahnya dan menemui perempuan tua itu. Dia bertanya kenapa perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer. Perempuan itu lalu bercerita kepadanya, bahwa anak-anaknya menjadi yatimsepeninggal suaminya. Keluarga ini sangat miskin dan tidak punya uang untuk membeli daging. Yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer untuk dimasak sebagai ganti dari daging. Lelaki itu sangat tersentuh mendengar penuturan kondisi yang dihadapi perempuan itu. Dia lalu menyedekahkan uangnya dalam jumlah lumayan banyak kepada perempuan itu. Selanjutnya dia memberikan uang kepada tukang sembelih dalam jumlah yang lumayan banyak lalu memintanya untuk mengirimkan daging kepada  perempuan itu setiap mingggunya. Perempuan itu sangat berterimakasih kepada lelaki itu. Tidak lupa dia mendoakan lelaki itu lalu permisi dan meninggalkan tempat. Sesampainya dirumah perempuan itu kemudian bercerita kepada anak-anaknya tentang kebaikan seorang lelaki yang menolong keluarganya. Tidak hanyak itu perempuan itu meminta anak-anak yatim untuk mendoakan laki-laki yang menolongnya tadi.
Beberapa hari kemudian, lelaki itu pergi ke luar negeri untuk menjalani operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, terlebih dahulu dokter memeriksa lelaki itu kembali. Hasilnya sangat mencengangkan. Berubahlah raut muka dokter itu, dan dengan nada marah dia bertanya kepada lelaki itu, “Apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya untuk menjalani pengobatan atas penyakitmu itu?”
Lelaki itu menjawab, “Tidak.”
Dokter itu berkata, “Bohong! Jujurlah padaku, apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya atau tidak?”
Lelaki itu menjawab, “Aku bersumpah, demi Allah aku sama sekali tidak pergi ke rumah sakit lainnya, Sebenarnya ada apa engakau bertanya seperti ini?”
Dokter itu lalu menjawab, “Pemeriksaan dan diagnosa terbaru menunjukkan tubuhmu sama sekali sudah bersih dari kanker. Keadaanmu sekarang ini sehat-sehat saja.”
Lelaki itu hampir tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh dokter itu. Dia tidak kuasa membendung air matanya yang meleleh karena bahagia. Dia lalu bertanya kepada dokter itu apakah benar apa yang barusan dikatakan kepadanya. Dokter itu menjawab dan bersumpah bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.
Setelah menyadari atas apa yang dialaminya ini, lelaki itu lalu bersyukur memanjatkan puji kepada Allah. Kemudian dia pulang ke Negara asalnya dalam keadaan sehat wal afiat. Dia menceritakan kepada anggota keluarganya, dan mereka semua sangat takjub terhadap peristiwa yang dialami lelaki itu.
Dalam hal ini lelaki itu berkata “Allah telah menyembuhkan aku berkat doa yang dipanjatkan oleh perempuan tersebut, karena aku telah bersedekah kepada anak-anak yatimnya.”
Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memelihara keluarga miskin sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Subhanallah….Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw “Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah.”

Rabu, 05 April 2017

Sedekah Untuk Anak dan Doa Untuk Kedua Orang Tua || Novi Srikandi Almuzakki


Kisah nyata diambil dari Fauzil Akbar. Beliau menceritakan keajaiban sedekah. Semoga dari tulisan ini kita dapat mengambil hikmahnya dan dapat pula mengamalkannya.
Saya punya pengalaman yang mungkin cukup buat kita tambah yakin tentang bukti kebesaran Allah. Yaitu tentang sedekah yang saya niatkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Kebetulan saya mewajibkan diri saya sendiri untuk menyantuni anak-anak yatim setiap bulan sebesar Rp. 500.000 niatnya buat kebaikan anak-anak saya sendiri. Ini ajaran saya dapatkan dari ustad kita ustad Yusuf mansur. Beliau pernah berkata kepada jama’ah melalui media televisi bahwa untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak yang ta’at kepada orang tua, sholeh dan sholehah, tidak menyusahkan orang tuanya,selalu mendoakan orang tuanya,dan dekat kepada Allah SWT adalah dengan cara menyantuni anak-anak yatim piatu. Ini adalah salah satu upaya kita sebagai orang tua, mestinya kita harus peka dengan nasib anak orang lain, terlebih anak yatim piatu yang jelas sudah tidak lagi mendapat kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Alhamdulillah Allah mengkaruniakan kami dua anak perempuan yang tentu sebagai orang tua, kami harus memberikan ajaran-ajaran yang positif,lingkungan yang sehat, dan pergaulan yang baik. Salah satu upaya saya adalah memberikan santunan kepada anak anak yatim piatu sebesar 500.000, atau masing-masing dari anak saya, saya sedekahkan Rp.250.000 x 2 = Rp500.000, dengan harapan menambah kebaikan hati dari anak-anak saya dan menutupi  dari sifat buruk.
Allahu Akbar walillahilhamd. Sampai saat inipun tetap saya bersedekah tiap bulan dengan imbalan Allah tetap melindungi saya, istri dan anak-anak saya sendiri. Tentu yang saya paling saya rasakan adalah anak-anak saya ta’at kepada kepada orang tuanya. Sopan santunnya terjaga, alhamdulillah lebih banyak sehat daripada sakitnya. Kalaupun sakit, itu hanya sakit yang ringan dan kemudian Allah berikan kesehatan lagi.walaupun ekonomi saat ini kadang sehat kadang sakit, saya tetap niatkan untuk istiqomah bersedekah untuk anak-anak saya agar Allah ridho dengan impian mereka, dan yang jelas saya ingin mewariskan yang paling istimewa yaitu anak-anak saya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, mendoakan orang tuanya setiap selesai sholat, membacakan Alfatihah buat kesehatan  selalu, mengasuh ketika sakit dengan tulus dan ikhlas.
Pokoknya saya tidak mau seperti yang dialami oleh umat yang sudah-sudah, ketika orang tuanya sudah tua, malah dibawa kepanti jompo. Walaupun orang tuanya tidak mempermasalahkannya, tetapi sesungguhnya hatinya luka, bahkan sangat terluka. Uang bukanlah ukuran untuk membahagiakan orang tua, tetapi perhatian, doa dan kasih sayang kepada orang tualah yang diharapkannya. Coba, apa yang bisa kita balas kepada orang tua kita? Tidak membentak orang tua saja dan berkata yang tidak menyakiti hatinya  sudah cukup membuat orang tua kita senang. Karena kelak kita akan menjadi orang tua bagi anak-anak kita.
Kalau sudah membicarakan orang tua, air mata ini sudah gak sanggup ditahan lagi, dosa saya banyak sekali terhadap orang tua saya, terlebih perbuatan saya yang bisa menularkan dosa kepada orang tua saya. “Ya Robb, hamba mohon ampun atas segala dosa-dosa hamba dan kedua Orang Tuaku. Dosa kedua orang tua dari istriku. Sungguh hamba merasa tidak cukup membalas kebaikan mereka, tapi cukupkanlah ya Allah dengan doa doa tulus dari kami sebagai anak-anaknya semoga mereka sehat total, panjang umur,yaitu umur yang banyak beribadah kepadaMu dan kumpulkanlah kami di SorgaMu dengan keRidhoanMu. Ya Robb, janganlah engkau panggil kami sebelum kami betul-betul bertaubat nasuha. Aamiin”. Semoga setelah teman-teman yang membaca artikel ini, mari kita membaca Alfatihah buat beliau-beliau. Karena sejahat-jahatnya orang tua kita kepada kita, mereka pasti tetep sayang kita. Alfatihah buat mereka.

Selasa, 04 April 2017

Sedekah Tergantung Niat || Novi Srikandi Almuzakki

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al Akhnas radhiyallahu ‘anhum, -ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi SAW di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid, -pen). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, lalu ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebenarnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ
“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422).
Kisah di atas menceritakan bahwa ayah Ma’an (Yazid) ingin bersedekah kepada orang fakir miskin. Lantas datang anaknya (Ma’an) mengambil sedekah tersebut. Orang yang diwakilkan uang tersebut di masjid tidak mengetahui bahwa yang mengambil dinar tadi adalah anaknya Yazid. Kemungkinan lainnya, ia tahu bahwa anak Yazid di antara yang berhak mendapatkan sedekah tersebut. Lantas Yazid pun menyangkal dan mengatakan bahwa uang tersebut bukan untuk anaknya. Kemudian hal ini diadukan pada Nabi SAW dan beliau pun bersabda, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati”.
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1.      Setiap amalan tergantung pada niatan setiap orang. Jika seseorang telah meniatkan yang baik, maka ia akan mendapatkannya. Walaupun Yazid tidak berniat bahwa yang mengambil uangnya adalah anaknya. Akan tetapi anaknya mengambilnya dan anaknya tersebut termasuk di antara orang-orang yang berhak menerima. Oleh karena itu, Nabi SAW katakan, “Engkau dapati apa yang engkau niatkan.”
2.      Setiap orang akan diganjar sesuai yang ia niatkan walaupun realita yang terjadi ternyata menyelisihi yang ia maksudkan. Termasuk dalam sedekah, meskipun yang menerima sedekah adalah bukan orang yang berhak.
3.      Hadits di atas adalah sebagai kaedah untuk beberapa masalah:
a.       Bila seseorang menyerahkan zakat kepada orang yang awalnya ia nilai berhak menerima, namun ternyata ia adalah orang yang berkecukupan (kaya) dan tidak pantas menerima zakat, maka zakatnya tetap sah. Kewajiban baginya telah lepas. Karena awalnya ia berniat memberikan pada yang berhak, maka ia akan dibalas sesuai yang ia niatkan.
b.      Jika seseorang mewakafkan rumahnya yang berukuran kecil, namun ternyata yang ia ucapkan diisyaratkan pada rumah yang besar, beda dengan yang ia niatkan, maka yang teranggap saat itu adalah apa yang ia niatkan walaupun menyelisihi ucapannya. Karena setiap orang tergantung pada apa yang ia niatkan.
4.      Boleh menyerahkan sedekah untuk anak dengan syarat tidak menggugurkan kewajiban nafkah. Namun jika sedekah tersebut dimaksudkan pula untuk nafkah, maka seperti ini tidaklah sah karena ia berniat menggugurkan yang wajib. Misalnya, jika ayah melunasi utang anaknya dan ayahnya mengambil dari sedekah (zakat), maka seperti itu boleh karena anaknya adalah keluarga dia yang paling dekat yang lebih pantas menerima daripada orang yang jauh.
5.      Sedekah yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah sedekah sunnah dan sedekah sunnah boleh diserahkan pada anak (furu’). Sedangkan sedekah wajib tidaklah boleh diserahkan pada anak (furu’) atau pada orang tua (ushul).
6.      Hadits ini juga menunjukkan bolehnya zakat atau sedekah diwakilkan penyerahannya pada orang lain.
7.      Ayah tidak boleh menarik kembali sedekah yang sudah diambil oleh anaknya, walau berbeda dengan apa yang ia niatkan.
8.      Tidaklah termasuk durhaka jika anak mengadukan ayahnya untuk mengenalkan kebenaran.
Demikian faedah sederhana dari hadits Ma’an dan Yazid, moga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.
Referensi:
Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin,  Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, hal. 31-32.
Dr. Musthofa Al Bugho, dll, Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhish Sholihin, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 15.
Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, hal. 39-41.

The Virtue Of Charity, Infaq, and Zakat || Novi Srikandi Almuzakki

Sedekah memiliki sejumlah keutamaan dan keistimewaan. Dalam surah at-Taubah ayat 103 yang berbunyi : “Ambillah Zakat dari sebagain harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Sedekah bertujuan untuk menyucikan harta dan diri muzaki agar menjadi penenteram batin mereka. Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW menyatakan, sedekah itu merupakan bukti keimanan seseorang dan mereka yang bersedekah akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah SWT (HR al-Baihaqi).
Di antara keutamaan sedekah antara lain:
  1. Orang bersedekah berhak mendapat rahmat Allah seperti dalam surat al-A’raf ayat 56 yang berbunyi : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaiki-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. Sedekah akan menjadi naungan di akhirat saat tidak ada naungan, kecuali naungan Allah. “Sesungguhnya, sedekah itu memadamkan panasnya kubur dan hanyalah seorang Mukmin yang mendapatkan naungan pada hari kiamat nanti dengan sedekahnya.” (HR Thabrani dan Baihaqi).
  2. Sedekah memadamkan murka Ilahi. “Sedekah rahasia (tersembunyi) itu memadamkan amarah Ilahi.” (HR Thabrani dan Ibnu Asakir).
  3. Sedekah menolak mati dalam keadaan suul khatimah (akhir yang buruk). “Akhlak buruk adalah kejelekan, kuat ingatan adalah mengembangkan, dan sedekah menolak mati suul khatimah.” (HR al- Baihaqi).
  4. Sedekah menjadi sebab disembuhkannya penyakit. “Obatilah orang-orang sakit dengan sedekah, bentengilah hartamu dengan zakat, dan sesungguhnya zakat itu menolak peristiwa mengerikan dan penyakit.” (HR Ad-Dailami dari Ibnu Umar).
  5. Sedekah itu akan mendapatkan keberkahan dalam hidup dan tambahan rezeki, “Barang siapa menafkahkan hartanya maka akan diberi keberkahan darinya.” Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta dan tidaklah pemberian maaf itu kecuali ditambah kemuliaan oleh Allah dan tidaklah seseorang tawadhu karena Allah, kecuali Dia akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim).
Ramadhan adalah bulan termulia dan utama. Karena itu, bersedekah di bulan itu akan makin berlipat pahala dan keutamaannya. “Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Turmudzi dari Anas).
Di antara keutamaan sedekah pada Ramadhan, antara lain, pertama, Allah SWT menebar rahmat dan ampunan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang dermawan pada fakir miskin dan anak yatim piatu maka Allah akan membalasnya dengan kedermawanan-Nya. Kedua, berkumpulnya puasa dan sedekah akan memperoleh balasan surga. “Sesungguhnya, di surga terdapat ruangan-ruangan yang di dalamnya bisa dilihat dari luar dan luarnya bisa dilihat dari dalam. Ditanyakan kepada beliau, untuk siapakah ruangan-ruangan itu? Rasulullah menjawab, ‘Ruangan itu diperuntukkan bagi orang yang bicaranya baik, memberi makanan, selalu berpuasa, dan shalat malam saat orang-orang tertidur.” (HR Ibnu Khuzaimah). Ketiga, puasa dan sedekah adalah ibadah yang paling hebat dalam menghapuskan dosa dan menjauhkan kita dari neraka. “Sedekah itu menghapuskan dosa seperti air memadamkan api.” (HR At-Tirmidzi). Sedangkan, puasa membersihkan dosa dan membakarnya. Keempat, sedekah menambah solidaritas sosial antara anggota masyarakat.

Sedekah atau Meminta Doa? || Novi Srikandi Almuzakki

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“. (QS. Al-Hadid: 18) “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).
Seorang ibu berdiskusi dengan putri yang tinggal semata wayang tentang target sedekah. Wanita separuh abad itu kebingungan mengalokasikan kelebihan rezeki yang didapat untuk disedekahkan kemana. Sebab sang ibu tidak begitu percaya dan menjadi paranoid karena pernah membagi kelebihan hartanya pada suatu panti asuhan. Ternyata di panti itu banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan hartanya. Bukannya disalurkan pada anak yatim piatu, amal sedekah itu justru dihabiskan oleh para pengurus panti. Itulah sebabnya sang ibu menjadi kehilangan kepercayaan dan lebih berhati-hati dalam bersedekah.
Lalu ia bertanya pada putrinya. Ibu satu ini memang dikenal demokratis dan sering meminta saran pada putrinya. Dibandingkan dengan suaminya yang pendiam dan terkesan dingin, putrinya lebih mudah diajak berdiskusi.
“Sayang, Mama kadang bingung dan nggak percaya tiap kali mau kasih uang atau barang akhir-akhir ini. Mama kan pernah ditipu. Harus kemana ya?” Sang putri menjawab yakin. “Ke rumah singgah khusus anak-anak kanker aja, Ma. Kan kita udah kenal. Waktu ultah September kemarin, aku juga ke sana. Aduh…jadi kangen anak-anak itu. Mereka udah sembuh belum, ya? Apa masih kemoterapi?”
“Nggak mau. Di sana nggak didoain. Anak-anak sama keluarga pengasuh rumah itu nggak kasih doa.”
Jawaban itu membuat sang putri kecewa. Ia berpikir, jadi selama ini sedekah tujuan utamanya untuk meminta doa? Membuat syukuran, membagi makanan, memberi uang, agar didoakan oleh orang-orang kurang mampu?
Contoh kasus di atas memberi pelajaran berharga. Bahwa tujuan bersedekah atau berbagi bukan untuk meminta doa atau feedback berupa doa dari orang yang menerima sedekah. Melainkan tujuan utama sedekah semata karena Allah. Makna sedekah sebagai pembersih harta dan amalan pada Illahi Rabbi jangan disalahgunakan. Bersedekah hanya karena ingin meminta doa menjadi berkurang maknanya.
Kembali ke kasus tadi, sang putri berusaha mengingatkan ibunya secara halus. Sayangnya, sang ibu yang perfeksionis itu tak suka dikritik. Beliau memang tersenyum, mengangguk, namun pada akhirnya berkata.
“Nanti Mama cari yayasan, panti, atau tempat lain yang Mama suka dan bisa amanah.”
Gadis itu menjadi gemas. Dalam hati ia menyesali sikap ibunya. Celakanya, ada sifat perfeksionis itu yang menurun padanya.
Sementara sang ibu keras pada prinsipnya, gadis itu pun memiliki prinsip yang kuat pula. Ia tetap ingin datang ke rumah khusus anak pengidap kanker itu jika sudah ada waktu luang. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak lucu dan polos yang tengah diuji penyakit berbahaya itu. Sementara itu, sang ibu juga tak habis pikir dengan niat anak tunggalnya. Mengapa perhatian sekali pada orang-orang sakit? Sejak kecil, ia telah memperhatikan bahwa putrinya memberi perhatian dan kasih sayang lebih besar pada orang yang sakit. Entah itu penyakit fisik maupun psikis.
Bersedekah harus dilakukan dengan niat yang tulus. Soal apakah si penerima sedekah akan mendoakan kita atau tidak, itu kembali pada niat mereka. Itu bukan lagi urusan atau kapasitas kita. Jika kita bersedekah hanya untuk minta didoakan, sama saja kita menuntut pamrih dari mereka.
Doa anak yatim piatu, fakir miskin, dan orang yang teraniaya atau terzhalimi memang baik. Bahkan doa orang yang teraniaya akan dikabulkan. Namun bukan berarti kita memanfaatkan kondisi mereka demi kepentingan pribadi.
Jangan ragu untuk bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta kekayaan. Justru Allah akan memberikan ganti berlipat ganda pada kita. Lebih istimewa lagi, harta kekayaan kita akan dibersihkan.
Jadi, segera luruskan niat dan mulailah menebar kebaikan untuk orang lain dengan tulus dan ikhlas.

Sedekah, Amal Sholeh Membawa Khusnul Khotimah || Novi Srikandi Almuzakki

Jika orang-orang yang telah sampai ajalnya, atau bahkan telah meninggal bisa kembali lagi ke dunia untuk beramal shaleh, apakah kiranya amal shaleh yang akan dilakukannya?
Inilah yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran, “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun [63]: 11).
Mengapa bersedekah? Padahal banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunat, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci.
Mengapa memilih amal saleh sedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.
Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).
Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).
Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).
Sedekah bisa dilakukan siapapun dan dimanapun. Sedekah tak perlu ritual khusus, seperti harus berwudhu’ jika hendak shalat, harus istitha’ah (berkesanggupan) jika ingin haji, dan seterusnya.
Sayangnya, selama di dunia banyak yang enggan bersedekah. Mereka terlalu sayang dengan harta, walau mereka yakin harta tersebut tak akan dibawa mati.
Ketika maut menjelang, harta berpindah tangan kepada orang lain. Ia baru akan merasakan, betapa meruginya selama di dunia menjadi orang yang kikir bersedekah.
Rasulullah SAW dalam banyak hadisnya menjamin, tak akan berkurang harta yang disedekahkan. Bahkan, harta yang disedekahkan akan diganti Allah Sang Maha Pemberi Rezeki dengan berlipat ganda. Malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah.
“Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).
Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang mengaku beriman tidak percaya dengan sabda Nabi mereka sendiri. Mereka meragukan jaminan Nabi mereka bagi orang yang bersedekah.
Mereka begitu sayang untuk merelakan harta terbaik mereka untuk disedekahkan. Jika mesti harus bersedekah, hanya sisa-sisa uang kecil mereka yang tak begitu bernilai untuk dibelanjakan. Padahal sedekah itulah tabungan mereka di akhirat yang akan setia mendampingi mereka.
Ketika mereka sudah melihat akhirat, barulah mereka sadar, sedekahlah amal shaleh dahsyat yang mampu menyelamatkan mereka.
Dalam hadis Bukhari diterangkan, seorang wanita pelacur diampuni dosanya hanya karena memberi setadah air kepada seekor anjing.
Abu Hurairah RA menyebutkan, telah diampuni seorang wanita pelacur yang lewat di depan anjing kehausan yang menjulurkan lidah. Ia melepaskan sepatunya untuk mengambil air di sebuah sumur untuk memberi minum si anjing yang kehausan. Maka Allah SWT pun berkenan mengampuni dosa si pelacur karena sedekahnya itu. (HR Bukhari).
Demikian hebatnya sedekah, bahkan sedekah ringan memberi minum binatang sejenis anjing. Apalagi sedekah yang lebih bermanfaat seperti memberi makan fakir miskin dan kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, serta membangun tempat ibadah dan lembaga pendidikan atau panti asuhan.

Obati Sakitmu Dengan Sedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita bisa dilakukan dengan berbagai cara yang baik. Salah satu yang utama adalah dengan menggunakan Thibbun Nabawi, namun selain itu, seseorang juga bisa berikhtiar atas penyakitnya dengan bersedekah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Dawud, At Thabarani dan Al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al-AlBani dalam Shahihul Jami’).
Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,
، ومعناه أن الصدقة علاج نافع مفيد يشفي الأمراض ويخفف الأسقام، ويؤيده قول النبي – صلى الله عليه وسلم – (( الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار )) فلعل بعض الأمراض تحدث عقوبة على ذنب أصابه المريض ، فمتى تصدق عنه أهله زالت الخطيئة، فزال سبب المرض ، أو أن الصدقة تكتب له حسنات، فينشط قلبه بها ويخف مع ذلك ألم المرض، والله أعلم.
“Maknanya bahwa sedekah adalah pengobatan yang bermanfaat dan berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit serta meringankan rasa sakit (keluhan), hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa salllam, “Sedekah bisa menhapuskan dosa sebagaimana air mematikan api”. Bisa jadi sebagian penyakit yang menimpanya adalah hukuman atas dosa yang dilakukan oleh yang sakit. Maka ketika keluarganya mensedekahkan untuknya, hilanglah dosanya, maka hilanglah sebab penyakitnya, atau dengan sedekah ditulis baginya kebaikan-kebaikan, maka hatinya akan bersemangat dan menjadi ringan rasa sakitnya. Wallahu a’lam”.[Fatawa Asy-Syar’iyyah fi masa’ilit Thibbiyah]
Abdur Ra’uf Al-Munawi rahimahullah berkata,
قال المناوي: “أمر بمداواة المرضى بالصدقة، …وقد جرَّب ذلك الموفقون، فوجدوا الأدوية الروحانية تفعل ما لا تفعله الأدوية الحسيَّة
“Orang yang sakit diperintahkan sering-sering bersedekah… hal ini sudah terbukti bagi yang telah berhasil, mereka mendapatinya sebagai obat  (penyembuh) ruhaniyah yang ampuh dimana tidak didapatkan pada obat biasa.” [ Faidhul Qadhir 3/515]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“إن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو من ظالم، بل من كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به؛ لأنهم جرَّبوه”
“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau dzalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereja telah membuktikannya.” [Al-Waabilus Shayyib hal. 49].
Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai.
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam “Shahih at-Targhib”).
Dengan bersedekah kepada kaum dhuafafakir miskin, yatim piatu bisa menjadikan obat berbagai penyakit. Semoga, sedikit tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang sedang terkena musibah penyakit.

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim || Novi Srikandi Almuzakki

Ada sebuah cerita menarik dari seorang dosen UGM sebut saja Bapak Pujo. Beberapa tahun ini keluarga Bapak Pujo, ia selalu mencari anak-anak yatim atau keluarga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya. Mereka meminta ibu mertua saya untuk mendapatkan beberapa orang yang akan mereka bantu, dengan sedikit rezeki yang didapatkannya. Katanya, “Bu, saya ada sedikit rezeki, tolong saya dicarikan anak-anak yatim yang kurang mampu. Saya ingin memberikan biaya sekolah padanya. Tetapi Bu, jangan bilang kalau pemberian ini dari saya, ya !”
Alhasil, ada seorang anak yatim masih duduk di sekolah dasar, ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang buruh cucian. Rencananya, Bapak Pujo akan membantu melunasi biaya sekolah anaknya.
Suatu ketika ibu mertua saya memberikan amplop yang berisi sejumlah uang, kemudian terdengar ucap syukur tiada henti dari ibu pencuci ini, “Alhamdulillah ternyata masih ada orang yang peduli sama keluarga saya.”
“Lalu orang yang menolong saya ini, siapa Bu?” tanyanya penasaran. “Pokoknya ada orang yang membantumu,” jawab ibu mertua saya.
Alasan, kenapa keluarga Bapak Pujo tidak mau mengungkapkan identitasnya, karena merkea tidak ingin orang yang telah dibantunya berkunjung, sambil membawa sesuatu sebagai tanda terima kasih. Bukankah kebiasaan seperti ini sudah membudaya di masyarakat kita. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjadi bahan pembicaraan tetangga yang lain.
Tetapi setelah sekian lama ibu buruh pencuci pakaian itu mengetahui bahwa keluarga Bapak Pujo lah yang membantunya. Maka mereka pun datang ke rumahnya. “Bapak Pujo, ternyata selama ini keluarga Bapaklah yang mencukupi kebutuhan sekolah anak saya, kami mengucapkan banyak terima kasih, “katanya. “O, semua itu pemberian dari Allah SWT, saya hanya sebagai perantara dan rezeki itu memang sebagian milik anak-anak yatim dan fakir miskin. Jadi bersyukurlah kepada Allah SWT” katanya.
Keluarga Bapak pujo sadar akan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa di hari kiamat, ada beberapa orang yang akan bangkit dari kubur dalam keadaan api menyala di wajah mereka. Maka seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Maka Rasulullah membacakan firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An Nisa:10).
“Maka sebenarnya sebagian harta kami adalah milik fakir miskin dan anak-anak yatim. “katanya kemudian sambil mempersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari kejadian inilah, keluarga ibu pencuci pakaian itu semakin dekat dengan keluarga Bapak Pujo, dan Alhamdulillah keluarga Bapak Pujo bisa mengajaknya untuk selalu dekat dengan Allah. Yaitu melalui pengajian-pengajian yang sering diadakan di rumahnya. Selain siraman ruhani, hubungan silaturahmi diantara kedua keluarga itu pun semakin terjalin erat.
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang yang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang seorang ahli ibadah yang kikir.” (HR. Tirmidzi, Misykiat).
Sekarang, kebiasaan bersedekah dengan membiayai anak-anak yatim pun merambah tidak hanya tetangga sekitar, orang-orang di luar lingkungannya pun dengan seijin Allah telah dibantunya. Dan ternyata selama mereka membantu anak-anak yatim dan fakir miskin. do’a-do’anya pun begitu mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Ketagihan Keajaiban Sedekah || Novi Srikandi Almuzakki


(Kisah ini diambil dari kisah nyata Muhammad Assad, mudah-mudahan bermanfaat buat yang membacanya A.M.)
Kami keluarga biasa-biasa aja (nggak kurang dan nggak berlebihan) yg dikaruniai 4 orang anak. Alhamdulillah hidup saya dan suami ngaliiiir aja, orang bilang sih kami nggak pernah susah hehe. Mungkin aliran kehidupan kami itu karena kami menjalani ibadah kepada-Nya seperti   shalat wajib tepat waktu, sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud, shalat fajar, puasa senin kamis, puasa ramadhon, zakat, dan Alhamdulillah kami pun sudah berhaji.
Tapi sungguh, dulu dalam hal sedekah kami melakukannya hanya sekadarnya aja, meskipun kami juga selalu berusaha membantu yang membutuhkan. Namun hidayah itu datang, setiap kali kami menyaksikan tayangan nikmatnya sedekah di salah satu stasiun TV, kami baca buku-buku tentang sedekah, *termasuk juga baca Notes From Qatar* kami sungguh iri dengan orang-orang yang dengan ringannya menyedekahkan 20 juta, 25 juta, 50 juta, dst. Kami hanya bertanya-tanya, kapan ya punya duit banyak sehingga bisa sedekah banyak pula seperti itu.
Ternyata Allah Swt memberikan kesempatan itu kepada kami tanpa harus menunggu punya duit banyak. Suatu malam, tetangga sebelah rumah saya datang sambil menangis minta tolong karena anaknya kejang dan tidak sadarkan diri (saat itu anaknya usia 30 tahun dan menderita gagal ginjal). Saat itu juga dengan seadanya duit di kantong saya dan suami mengantarkan ke RS, ternyata Hb-nya hanya 3, kreatinnya 24, dan harus segera transfuse. Harga per kantong darah Rp 250 ribu, butuh 5 kantong berarti total Rp 1.250.000 dan biaya malam itu di UGS sudah habis Rp 500 ribu.
Saya dan suami saling pandang, karena uang yang kami pegang untuk sampai akhir bulan ya pas tinggal Rp 2 juta. Saat itulah sangat terasa manfaatnya nonton acara-acara dan membaca buku tentang sedekah. Kami lalu memutuskan memakai semua uang kami itu untuk membeli darah.
Subhanallah, keajaiban itu benar-benar langsung terjadi. Saat proses di UGD masih berjalan, baru 30 menit dari saat pengambilan keputusan, waktu itu jam 10 malam, kakak kami dari luar kota nelpon suami saya dan bilang, “Wo, rumahmu depan itu kan habis kontraknya masih 6 bulan lagi, tapi yg ngontrak mau pindah, rumahnya di take over sama saudaranya diperpanjang pula, ini duitnya Rp 10 juta udah aku bawa.” Subahanallah. Allah Swt langsung  menggantinya tunai.
Kejadian malam itu benar-benar titik awal keyakinan kami akan keajaiban sedekah. Kelanjutan dari nasib tetangga kami itu adalah bahwa Allah Swt memudahkan segala usaha kami untuk membantu mencarikan dana untuk cuci darah rutinnya, kami share ke facebook hingga saudara dan teman kami banyak yang berpartisipasi membantu, hingga terkumpul bantuan sebesar Rp 18 juta yang tepat habis untuk cuci darah terakhirnya sebelum meninggal.
Dengan modal keajaiban pertama itu, kami ketagihan dengan keajaiban-keajaiban lainnya. Kami memang tidak punya tabungan cash, tapi kami punya asset yg sungguh malu jika hanya kami simpan.  Kami pengen banget menikmati gimana sih rasanya sedekah dalam jumlah yang cukup besar. Terbayang kami bisa foya-foya untuk akhirat kami.  Akhirnya kami meniatkan untuk menjual  satu rumah kami, dan akan mengambil separo dari hasil penjualan aja, yg separo lagi akan kami sedekahkan.
Allah Swt pun meridhoi niat kami, lakulah rumah kami Rp 310 juta. Kami gunakan Rp 155 juta untuk siapapun yang membutuhkan saat itu, mulai dari pendirian Rumah Quran, infaq untuk pondok tahfidz, melunaskan hutang orang, menyantuni anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa dll.
Betul-betul tidak merasa rugi sedikitpun. Sejak detik itu, sungguh sangat luar biasa rezeki yang Allah Swt limpahkan dari berbagai arah dan tidak pernah kami perkirakan sebelumnya. Apapun keinginan kami selalu dimudahkan oleh-Nya. Jika sebelumnya kami tidak pernah kekurangan, sekarang justru selalu merasa kelebihan. Nikmat yang Allah Swt berikan selalu lebih besar dari yang kami minta, dan kadang-kadang dengan cara yang nggak masuk akal.

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah || Novi Srikandi Almuzakki

Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
“Wahai istriku, engkau ingin buah apa?” tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
“Suamiku, aku ingin buah delima,” jawab Fatimah.
Maka Ali berfikir sejenak, karena ia tak ada uang sepersenpun. Dia pun berdiri serta pergi ke pasar mencari pinjaman uang satu dirham yang lalu dibelikan sebuah delima untuk istrinya Fatimah. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. “Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?” tanya Ali. “Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima,” jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
“Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah,” katanya dalam hati. Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT, “Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya.” (QS. Ad Dhuha:10).
Maka Ali lalu memberikan Buah Delima itu kepadanya. Ali pun lalu pulang dengan malu karena tak membawa buah, dan sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih hati wahai suamiku? Demi keperkasaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, sesungguhnya tatkala engkau memberikan delima itu kepada orang tua tersebut, maka hilanglah keinginanku kepada buah delima.” Maka Ali gembira dengan kata-katanya istrinya itu.
Tiba-tiba datanglah seseorang mengetuk pintu.
Tanya Ali: “Siapa ya ?”
Jawab orang itu: “Saya Salman Al-Farisi, tolong, bukakan pintu!”
Ali berdiri dan membukakan pintu, dan dia melihat Salman Al-Farisi di tangannya memegang talam yang tertutup di bahagian atasnya, serta meletakkannya di hadapan Ali.
Kata Ali: “Dari manakah ini, ya Salman?”
Jawab Salman: “Dari Allah kepada Rasul dan dari Rasul kepada engkau.”
Maka Ali membuka tutup talam itu, ternyata di dalamnya terdapat sembilan buah delima.
Maka Ali berkata lagi: “Ya Salman, kalau ini untuk saya tentunya harus sepuluh, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )
Salman al-Farisi tertawa sambil mengeluarkan sebiji delima dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di talam seraya berkata: “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”
Subhanallah Adakalanya, Allah SWT  membalas amal sedekah kita bukan dalam bentuk harta dan uang, tapi dikaruniakan kehidupan yang sejahtera dan penuh berkah, anak-anak yang sholeh dan solehah, kesehatan yang baik, keperluan yang mencukupi atau sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran kita. Ada masanya Allah simpan amalan sedekah kita sebagai pahala akhirat. Sedekah yang ikhlas kerana Allah, sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Begitu pula sedekah kepada fakir miskindhuafa, dan yatim piatu pasti dibalas oleh Allah dengan berlipat-lipat.

Bisakah Orang Miskin Bersedekah? || Novi Srikandi Almuzakki

Mungkin di antara kita selalu berpikir bahwa orang yang bisa bersedekah itu orang-orang yang kaya. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa orang kaya yang suka bersedekah lebih mulia dibandingan dengan orang miskin. Ibadahnya shalat orang kaya dengan orang miskin sama, puasanya orang kaya dengan orang miskin sama juga. Bedanya orang kaya bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya, sementara orang miskin? Jangankan bersedekah dengan kelebihan harta, dengan kebutuhan sendirinya masih kesulitan.
Suatu ketika banyak  orang miskin dari kalangan Muhajirin, dan sedikit dari kalangan Anshor tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Sementara mereka sering mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi yang mendorong untuk diinfaqkan/disedekahkan hartanya, memuji orang-orang yang berinfaqkan hartanya, dan menjanjikannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Para sahabat Nabi yang kaya berlomba-lomba untuk berinfaq/bersedekah hartanya, ada yang beribu-ribu dinar, ada pula yang menyedekahkan seluruh hartanya. Rosulullah Saw. selalu mendoakan dan memohon ampunan bagi mereka yang telah mengeluarkan hartanya karena Allah.
Sementara para sahabat Rosul yang miskin, tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana yang dilakukan oleh sahabatnya yang kaya. Mereka berkumpul, lalu menghadap Rosul sambil bertanya, “Ya Rosulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak. Karena mereka juga shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga puasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi, mereka lebih dari kami, karena mereka bisa berinfaq dengan kelebihan hartanya. Sedangkan kami tidak memiliki apa pun yang kami infaqkan agar bisa menyusul mereka. Padahal kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. Apa yang perlu kami perbuat?”
Rosulullah betul-betul memahami keinginan mereka yang kuat untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Lalu beliau bersabda, “Bukannya Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhmadulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa illaha illallah)  adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.” Mereka kaget, lalu bertanya kembali, “Wahai Rosulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.”
Subahanallah, pintu sedekah terbuka selebar-lebarnya untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadist Arbain yang ke 26 mendamaikan dua orang yang bertikai secara adil pun disebut juga sedekah, bahkan menghilangkan  duri yang mengganggu para pengguna berkendaraan di jalan pun itu namanya sedekah.

Janda Yang Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang.
Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat. Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infaqkan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin yang berada di lingkungannya. Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar. Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.
Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang. Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita “Bu…, tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.”Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, “Oalah… Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku kan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya. Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank.
Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah. Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya. Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata “Subhanallah!” berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira. Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,”Terima kasih ya Nak… Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin… Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak… Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah” Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, “Sama-sama bu… Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin….”Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah. Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun depan. Walillahil Hamd.

Kamis, 02 Maret 2017

Meneladani Kedermawanan Nabi Muhammad SAW || Novi Srikandi Almuzakki

Meneladani Kedermawanan Nabi Muhammad SAW || Novi Srikandi Almuzakki

Penggunaan Zakat Konsumtif Dan Produktif || Novi Srikandi Almuzakki

Penggunaan Zakat Konsumtif Dan Produktif || Novi Srikandi Almuzakki

Istri Rasulullah SAW Gemar Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Istri Rasulullah SAW Gemar Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Mencintai Dengan Meneladani Sifat Rasulullah SAW || Novi Srikandi Almuzakki

Mencintai Dengan Meneladani Sifat Rasulullah SAW || Novi Srikandi Almuzakki

Faedah Membantu Anak Yatim Dan Fakir Miskin || Novi Srikandi Almuzakki

Faedah Membantu Anak Yatim Dan Fakir Miskin || Novi Srikandi Almuzakki

Matematika Dalam Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Matematika Dalam Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Jangan Menimbun Harta || Novi Srikandi Almuzakki

Jangan Menimbun Harta || Novi Srikandi Almuzakki