Selasa, 04 April 2017

Ketagihan Keajaiban Sedekah || Novi Srikandi Almuzakki


(Kisah ini diambil dari kisah nyata Muhammad Assad, mudah-mudahan bermanfaat buat yang membacanya A.M.)
Kami keluarga biasa-biasa aja (nggak kurang dan nggak berlebihan) yg dikaruniai 4 orang anak. Alhamdulillah hidup saya dan suami ngaliiiir aja, orang bilang sih kami nggak pernah susah hehe. Mungkin aliran kehidupan kami itu karena kami menjalani ibadah kepada-Nya seperti   shalat wajib tepat waktu, sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud, shalat fajar, puasa senin kamis, puasa ramadhon, zakat, dan Alhamdulillah kami pun sudah berhaji.
Tapi sungguh, dulu dalam hal sedekah kami melakukannya hanya sekadarnya aja, meskipun kami juga selalu berusaha membantu yang membutuhkan. Namun hidayah itu datang, setiap kali kami menyaksikan tayangan nikmatnya sedekah di salah satu stasiun TV, kami baca buku-buku tentang sedekah, *termasuk juga baca Notes From Qatar* kami sungguh iri dengan orang-orang yang dengan ringannya menyedekahkan 20 juta, 25 juta, 50 juta, dst. Kami hanya bertanya-tanya, kapan ya punya duit banyak sehingga bisa sedekah banyak pula seperti itu.
Ternyata Allah Swt memberikan kesempatan itu kepada kami tanpa harus menunggu punya duit banyak. Suatu malam, tetangga sebelah rumah saya datang sambil menangis minta tolong karena anaknya kejang dan tidak sadarkan diri (saat itu anaknya usia 30 tahun dan menderita gagal ginjal). Saat itu juga dengan seadanya duit di kantong saya dan suami mengantarkan ke RS, ternyata Hb-nya hanya 3, kreatinnya 24, dan harus segera transfuse. Harga per kantong darah Rp 250 ribu, butuh 5 kantong berarti total Rp 1.250.000 dan biaya malam itu di UGS sudah habis Rp 500 ribu.
Saya dan suami saling pandang, karena uang yang kami pegang untuk sampai akhir bulan ya pas tinggal Rp 2 juta. Saat itulah sangat terasa manfaatnya nonton acara-acara dan membaca buku tentang sedekah. Kami lalu memutuskan memakai semua uang kami itu untuk membeli darah.
Subhanallah, keajaiban itu benar-benar langsung terjadi. Saat proses di UGD masih berjalan, baru 30 menit dari saat pengambilan keputusan, waktu itu jam 10 malam, kakak kami dari luar kota nelpon suami saya dan bilang, “Wo, rumahmu depan itu kan habis kontraknya masih 6 bulan lagi, tapi yg ngontrak mau pindah, rumahnya di take over sama saudaranya diperpanjang pula, ini duitnya Rp 10 juta udah aku bawa.” Subahanallah. Allah Swt langsung  menggantinya tunai.
Kejadian malam itu benar-benar titik awal keyakinan kami akan keajaiban sedekah. Kelanjutan dari nasib tetangga kami itu adalah bahwa Allah Swt memudahkan segala usaha kami untuk membantu mencarikan dana untuk cuci darah rutinnya, kami share ke facebook hingga saudara dan teman kami banyak yang berpartisipasi membantu, hingga terkumpul bantuan sebesar Rp 18 juta yang tepat habis untuk cuci darah terakhirnya sebelum meninggal.
Dengan modal keajaiban pertama itu, kami ketagihan dengan keajaiban-keajaiban lainnya. Kami memang tidak punya tabungan cash, tapi kami punya asset yg sungguh malu jika hanya kami simpan.  Kami pengen banget menikmati gimana sih rasanya sedekah dalam jumlah yang cukup besar. Terbayang kami bisa foya-foya untuk akhirat kami.  Akhirnya kami meniatkan untuk menjual  satu rumah kami, dan akan mengambil separo dari hasil penjualan aja, yg separo lagi akan kami sedekahkan.
Allah Swt pun meridhoi niat kami, lakulah rumah kami Rp 310 juta. Kami gunakan Rp 155 juta untuk siapapun yang membutuhkan saat itu, mulai dari pendirian Rumah Quran, infaq untuk pondok tahfidz, melunaskan hutang orang, menyantuni anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa dll.
Betul-betul tidak merasa rugi sedikitpun. Sejak detik itu, sungguh sangat luar biasa rezeki yang Allah Swt limpahkan dari berbagai arah dan tidak pernah kami perkirakan sebelumnya. Apapun keinginan kami selalu dimudahkan oleh-Nya. Jika sebelumnya kami tidak pernah kekurangan, sekarang justru selalu merasa kelebihan. Nikmat yang Allah Swt berikan selalu lebih besar dari yang kami minta, dan kadang-kadang dengan cara yang nggak masuk akal.

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah || Novi Srikandi Almuzakki

Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
“Wahai istriku, engkau ingin buah apa?” tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
“Suamiku, aku ingin buah delima,” jawab Fatimah.
Maka Ali berfikir sejenak, karena ia tak ada uang sepersenpun. Dia pun berdiri serta pergi ke pasar mencari pinjaman uang satu dirham yang lalu dibelikan sebuah delima untuk istrinya Fatimah. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. “Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?” tanya Ali. “Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima,” jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
“Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah,” katanya dalam hati. Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT, “Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya.” (QS. Ad Dhuha:10).
Maka Ali lalu memberikan Buah Delima itu kepadanya. Ali pun lalu pulang dengan malu karena tak membawa buah, dan sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih hati wahai suamiku? Demi keperkasaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, sesungguhnya tatkala engkau memberikan delima itu kepada orang tua tersebut, maka hilanglah keinginanku kepada buah delima.” Maka Ali gembira dengan kata-katanya istrinya itu.
Tiba-tiba datanglah seseorang mengetuk pintu.
Tanya Ali: “Siapa ya ?”
Jawab orang itu: “Saya Salman Al-Farisi, tolong, bukakan pintu!”
Ali berdiri dan membukakan pintu, dan dia melihat Salman Al-Farisi di tangannya memegang talam yang tertutup di bahagian atasnya, serta meletakkannya di hadapan Ali.
Kata Ali: “Dari manakah ini, ya Salman?”
Jawab Salman: “Dari Allah kepada Rasul dan dari Rasul kepada engkau.”
Maka Ali membuka tutup talam itu, ternyata di dalamnya terdapat sembilan buah delima.
Maka Ali berkata lagi: “Ya Salman, kalau ini untuk saya tentunya harus sepuluh, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )
Salman al-Farisi tertawa sambil mengeluarkan sebiji delima dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di talam seraya berkata: “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”
Subhanallah Adakalanya, Allah SWT  membalas amal sedekah kita bukan dalam bentuk harta dan uang, tapi dikaruniakan kehidupan yang sejahtera dan penuh berkah, anak-anak yang sholeh dan solehah, kesehatan yang baik, keperluan yang mencukupi atau sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran kita. Ada masanya Allah simpan amalan sedekah kita sebagai pahala akhirat. Sedekah yang ikhlas kerana Allah, sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Begitu pula sedekah kepada fakir miskindhuafa, dan yatim piatu pasti dibalas oleh Allah dengan berlipat-lipat.

Bisakah Orang Miskin Bersedekah? || Novi Srikandi Almuzakki

Mungkin di antara kita selalu berpikir bahwa orang yang bisa bersedekah itu orang-orang yang kaya. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa orang kaya yang suka bersedekah lebih mulia dibandingan dengan orang miskin. Ibadahnya shalat orang kaya dengan orang miskin sama, puasanya orang kaya dengan orang miskin sama juga. Bedanya orang kaya bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya, sementara orang miskin? Jangankan bersedekah dengan kelebihan harta, dengan kebutuhan sendirinya masih kesulitan.
Suatu ketika banyak  orang miskin dari kalangan Muhajirin, dan sedikit dari kalangan Anshor tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Sementara mereka sering mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi yang mendorong untuk diinfaqkan/disedekahkan hartanya, memuji orang-orang yang berinfaqkan hartanya, dan menjanjikannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Para sahabat Nabi yang kaya berlomba-lomba untuk berinfaq/bersedekah hartanya, ada yang beribu-ribu dinar, ada pula yang menyedekahkan seluruh hartanya. Rosulullah Saw. selalu mendoakan dan memohon ampunan bagi mereka yang telah mengeluarkan hartanya karena Allah.
Sementara para sahabat Rosul yang miskin, tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana yang dilakukan oleh sahabatnya yang kaya. Mereka berkumpul, lalu menghadap Rosul sambil bertanya, “Ya Rosulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak. Karena mereka juga shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga puasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi, mereka lebih dari kami, karena mereka bisa berinfaq dengan kelebihan hartanya. Sedangkan kami tidak memiliki apa pun yang kami infaqkan agar bisa menyusul mereka. Padahal kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. Apa yang perlu kami perbuat?”
Rosulullah betul-betul memahami keinginan mereka yang kuat untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Lalu beliau bersabda, “Bukannya Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhmadulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa illaha illallah)  adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.” Mereka kaget, lalu bertanya kembali, “Wahai Rosulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.”
Subahanallah, pintu sedekah terbuka selebar-lebarnya untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadist Arbain yang ke 26 mendamaikan dua orang yang bertikai secara adil pun disebut juga sedekah, bahkan menghilangkan  duri yang mengganggu para pengguna berkendaraan di jalan pun itu namanya sedekah.

Janda Yang Bersedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. Ia tengah berdiri di sebuah konter bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah dari Teller. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian.Bukan masalah duit yang tersisa yang sebenarnya yang membuat ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk dapat berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali sampai angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang.
Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat. Seolah mendapat ilham dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infaqkan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin yang berada di lingkungannya. Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, baru ia kembali setelah mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada anak-anak yatim dan fakir miskin di sekitar. Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia langsung menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang bernama Ijah untuk membuatkan secangkir teh.
Ijah pun datang dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti adalah seorang perempuan yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin adalah sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang. Saat Ijah datang membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita “Bu…, tadi saat ibu pergi, den Bagus datang kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi karena ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat.”Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, “Oalah… Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku kan juga kangen. Sudah lama gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin dia juga kesel sudah datang jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya. Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu seperti berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank.
Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah. Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya. Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah selesai dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata “Subhanallah!” berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira. Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti langsung mengucapkan salam dan mengatakan,”Terima kasih ya Nak… Subhanallah, padahal baru semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu malu mau cerita kepada kalian semua. Takut ngerepotin… Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak… Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah” Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, “Sama-sama bu… Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan supaya dapat menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu dapat terkumpul. Mudah-mudahan ibu bisa berhaji selekas mungkin….”Nada suara Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah lama ia bersabar untuk dapat berhaji ke Baitullah. Alhamdulillah setelah penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk datang ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun depan. Walillahil Hamd.