Selasa, 04 April 2017

Sedekah atau Meminta Doa? || Novi Srikandi Almuzakki

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“. (QS. Al-Hadid: 18) “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.(HR. At-Tirmidzi).
Seorang ibu berdiskusi dengan putri yang tinggal semata wayang tentang target sedekah. Wanita separuh abad itu kebingungan mengalokasikan kelebihan rezeki yang didapat untuk disedekahkan kemana. Sebab sang ibu tidak begitu percaya dan menjadi paranoid karena pernah membagi kelebihan hartanya pada suatu panti asuhan. Ternyata di panti itu banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan hartanya. Bukannya disalurkan pada anak yatim piatu, amal sedekah itu justru dihabiskan oleh para pengurus panti. Itulah sebabnya sang ibu menjadi kehilangan kepercayaan dan lebih berhati-hati dalam bersedekah.
Lalu ia bertanya pada putrinya. Ibu satu ini memang dikenal demokratis dan sering meminta saran pada putrinya. Dibandingkan dengan suaminya yang pendiam dan terkesan dingin, putrinya lebih mudah diajak berdiskusi.
“Sayang, Mama kadang bingung dan nggak percaya tiap kali mau kasih uang atau barang akhir-akhir ini. Mama kan pernah ditipu. Harus kemana ya?” Sang putri menjawab yakin. “Ke rumah singgah khusus anak-anak kanker aja, Ma. Kan kita udah kenal. Waktu ultah September kemarin, aku juga ke sana. Aduh…jadi kangen anak-anak itu. Mereka udah sembuh belum, ya? Apa masih kemoterapi?”
“Nggak mau. Di sana nggak didoain. Anak-anak sama keluarga pengasuh rumah itu nggak kasih doa.”
Jawaban itu membuat sang putri kecewa. Ia berpikir, jadi selama ini sedekah tujuan utamanya untuk meminta doa? Membuat syukuran, membagi makanan, memberi uang, agar didoakan oleh orang-orang kurang mampu?
Contoh kasus di atas memberi pelajaran berharga. Bahwa tujuan bersedekah atau berbagi bukan untuk meminta doa atau feedback berupa doa dari orang yang menerima sedekah. Melainkan tujuan utama sedekah semata karena Allah. Makna sedekah sebagai pembersih harta dan amalan pada Illahi Rabbi jangan disalahgunakan. Bersedekah hanya karena ingin meminta doa menjadi berkurang maknanya.
Kembali ke kasus tadi, sang putri berusaha mengingatkan ibunya secara halus. Sayangnya, sang ibu yang perfeksionis itu tak suka dikritik. Beliau memang tersenyum, mengangguk, namun pada akhirnya berkata.
“Nanti Mama cari yayasan, panti, atau tempat lain yang Mama suka dan bisa amanah.”
Gadis itu menjadi gemas. Dalam hati ia menyesali sikap ibunya. Celakanya, ada sifat perfeksionis itu yang menurun padanya.
Sementara sang ibu keras pada prinsipnya, gadis itu pun memiliki prinsip yang kuat pula. Ia tetap ingin datang ke rumah khusus anak pengidap kanker itu jika sudah ada waktu luang. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak lucu dan polos yang tengah diuji penyakit berbahaya itu. Sementara itu, sang ibu juga tak habis pikir dengan niat anak tunggalnya. Mengapa perhatian sekali pada orang-orang sakit? Sejak kecil, ia telah memperhatikan bahwa putrinya memberi perhatian dan kasih sayang lebih besar pada orang yang sakit. Entah itu penyakit fisik maupun psikis.
Bersedekah harus dilakukan dengan niat yang tulus. Soal apakah si penerima sedekah akan mendoakan kita atau tidak, itu kembali pada niat mereka. Itu bukan lagi urusan atau kapasitas kita. Jika kita bersedekah hanya untuk minta didoakan, sama saja kita menuntut pamrih dari mereka.
Doa anak yatim piatu, fakir miskin, dan orang yang teraniaya atau terzhalimi memang baik. Bahkan doa orang yang teraniaya akan dikabulkan. Namun bukan berarti kita memanfaatkan kondisi mereka demi kepentingan pribadi.
Jangan ragu untuk bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta kekayaan. Justru Allah akan memberikan ganti berlipat ganda pada kita. Lebih istimewa lagi, harta kekayaan kita akan dibersihkan.
Jadi, segera luruskan niat dan mulailah menebar kebaikan untuk orang lain dengan tulus dan ikhlas.

Sedekah, Amal Sholeh Membawa Khusnul Khotimah || Novi Srikandi Almuzakki

Jika orang-orang yang telah sampai ajalnya, atau bahkan telah meninggal bisa kembali lagi ke dunia untuk beramal shaleh, apakah kiranya amal shaleh yang akan dilakukannya?
Inilah yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran, “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu lalu dia berkata (menyesali), ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS al-Munafiqun [63]: 11).
Mengapa bersedekah? Padahal banyak amal shaleh lainnya yang tak kalah dahsyat pahalanya. Sebut saja shalat sunat, baca Alquran, berpuasa, berzikir, berjihad, atau berangkat haji ke Tanah Suci.
Mengapa memilih amal saleh sedekah dari sekian banyak amal-amal shaleh yang ada? Para ulama mengatakan, karena ia melihat sedemikian dahsyatnya pahala sedekah setelah kematiannya.
Seorang yang meninggal itu ketika melihat dosanya, sedekahlah salah satunya yang dapat menghapuskan dosanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Turmudzi, Ahmad, al-Baihaqi, an-Nasa`i, dishahihkan al-Albani).
Ketika orang yang akan meninggal tengah menghadapi hebatnya sakaratul maut, sedekah juga dapat melapangkan dadanya. Sehingga ia dapat melepaskan nyawa dengan khusnul khatimah. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk.” (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).
Demikian juga, ketika seorang yang meninggal melihat api neraka yang siap menerkamnya, ia melihat amalan sedekah bisa menyelamatkannya dari api neraka. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW kepada istrinya Aisyah RA. “Wahai Aisyah, berlindunglah dari siksa api neraka walau dengan sebutir kurma.” (HR Ahmad, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah).
Sedekah bisa dilakukan siapapun dan dimanapun. Sedekah tak perlu ritual khusus, seperti harus berwudhu’ jika hendak shalat, harus istitha’ah (berkesanggupan) jika ingin haji, dan seterusnya.
Sayangnya, selama di dunia banyak yang enggan bersedekah. Mereka terlalu sayang dengan harta, walau mereka yakin harta tersebut tak akan dibawa mati.
Ketika maut menjelang, harta berpindah tangan kepada orang lain. Ia baru akan merasakan, betapa meruginya selama di dunia menjadi orang yang kikir bersedekah.
Rasulullah SAW dalam banyak hadisnya menjamin, tak akan berkurang harta yang disedekahkan. Bahkan, harta yang disedekahkan akan diganti Allah Sang Maha Pemberi Rezeki dengan berlipat ganda. Malaikat akan mendoakan orang yang bersedekah.
“Ya Allah, berilah orang yang bersedekah, gantinya,” seru para malaikat sepenjuru langit mendoakan orang yang bersedekah. (HR Bukhari Muslim).
Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang mengaku beriman tidak percaya dengan sabda Nabi mereka sendiri. Mereka meragukan jaminan Nabi mereka bagi orang yang bersedekah.
Mereka begitu sayang untuk merelakan harta terbaik mereka untuk disedekahkan. Jika mesti harus bersedekah, hanya sisa-sisa uang kecil mereka yang tak begitu bernilai untuk dibelanjakan. Padahal sedekah itulah tabungan mereka di akhirat yang akan setia mendampingi mereka.
Ketika mereka sudah melihat akhirat, barulah mereka sadar, sedekahlah amal shaleh dahsyat yang mampu menyelamatkan mereka.
Dalam hadis Bukhari diterangkan, seorang wanita pelacur diampuni dosanya hanya karena memberi setadah air kepada seekor anjing.
Abu Hurairah RA menyebutkan, telah diampuni seorang wanita pelacur yang lewat di depan anjing kehausan yang menjulurkan lidah. Ia melepaskan sepatunya untuk mengambil air di sebuah sumur untuk memberi minum si anjing yang kehausan. Maka Allah SWT pun berkenan mengampuni dosa si pelacur karena sedekahnya itu. (HR Bukhari).
Demikian hebatnya sedekah, bahkan sedekah ringan memberi minum binatang sejenis anjing. Apalagi sedekah yang lebih bermanfaat seperti memberi makan fakir miskin dan kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, serta membangun tempat ibadah dan lembaga pendidikan atau panti asuhan.

Obati Sakitmu Dengan Sedekah || Novi Srikandi Almuzakki

Ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita bisa dilakukan dengan berbagai cara yang baik. Salah satu yang utama adalah dengan menggunakan Thibbun Nabawi, namun selain itu, seseorang juga bisa berikhtiar atas penyakitnya dengan bersedekah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Dawud, At Thabarani dan Al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al-AlBani dalam Shahihul Jami’).
Syaikh Abdullah Al-Jibrin rahimahullah berkata,
، ومعناه أن الصدقة علاج نافع مفيد يشفي الأمراض ويخفف الأسقام، ويؤيده قول النبي – صلى الله عليه وسلم – (( الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار )) فلعل بعض الأمراض تحدث عقوبة على ذنب أصابه المريض ، فمتى تصدق عنه أهله زالت الخطيئة، فزال سبب المرض ، أو أن الصدقة تكتب له حسنات، فينشط قلبه بها ويخف مع ذلك ألم المرض، والله أعلم.
“Maknanya bahwa sedekah adalah pengobatan yang bermanfaat dan berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit serta meringankan rasa sakit (keluhan), hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa salllam, “Sedekah bisa menhapuskan dosa sebagaimana air mematikan api”. Bisa jadi sebagian penyakit yang menimpanya adalah hukuman atas dosa yang dilakukan oleh yang sakit. Maka ketika keluarganya mensedekahkan untuknya, hilanglah dosanya, maka hilanglah sebab penyakitnya, atau dengan sedekah ditulis baginya kebaikan-kebaikan, maka hatinya akan bersemangat dan menjadi ringan rasa sakitnya. Wallahu a’lam”.[Fatawa Asy-Syar’iyyah fi masa’ilit Thibbiyah]
Abdur Ra’uf Al-Munawi rahimahullah berkata,
قال المناوي: “أمر بمداواة المرضى بالصدقة، …وقد جرَّب ذلك الموفقون، فوجدوا الأدوية الروحانية تفعل ما لا تفعله الأدوية الحسيَّة
“Orang yang sakit diperintahkan sering-sering bersedekah… hal ini sudah terbukti bagi yang telah berhasil, mereka mendapatinya sebagai obat  (penyembuh) ruhaniyah yang ampuh dimana tidak didapatkan pada obat biasa.” [ Faidhul Qadhir 3/515]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“إن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء، ولو كانت من فاجر أو من ظالم، بل من كافر، فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به؛ لأنهم جرَّبوه”
“Sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam mencegah berbagai bala’, walaupun sedekah dari seorang fajir (ahli maksiat) atau dzalim bahkan dari orang kafir. Karena Allah mencegah dengan sedekah berbagai bala’. Hal ini telah diketahui oleh manusia baik yang awam ataupun tidak. Penduduk bumi mengakui hal ini karena mereja telah membuktikannya.” [Al-Waabilus Shayyib hal. 49].
Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai.
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam “Shahih at-Targhib”).
Dengan bersedekah kepada kaum dhuafafakir miskin, yatim piatu bisa menjadikan obat berbagai penyakit. Semoga, sedikit tulisan ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang sedang terkena musibah penyakit.

Sebagian Hartaku milik Fakir Miskin dan Anak Yatim || Novi Srikandi Almuzakki

Ada sebuah cerita menarik dari seorang dosen UGM sebut saja Bapak Pujo. Beberapa tahun ini keluarga Bapak Pujo, ia selalu mencari anak-anak yatim atau keluarga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya. Mereka meminta ibu mertua saya untuk mendapatkan beberapa orang yang akan mereka bantu, dengan sedikit rezeki yang didapatkannya. Katanya, “Bu, saya ada sedikit rezeki, tolong saya dicarikan anak-anak yatim yang kurang mampu. Saya ingin memberikan biaya sekolah padanya. Tetapi Bu, jangan bilang kalau pemberian ini dari saya, ya !”
Alhasil, ada seorang anak yatim masih duduk di sekolah dasar, ayahnya sudah meninggal dan ibunya seorang buruh cucian. Rencananya, Bapak Pujo akan membantu melunasi biaya sekolah anaknya.
Suatu ketika ibu mertua saya memberikan amplop yang berisi sejumlah uang, kemudian terdengar ucap syukur tiada henti dari ibu pencuci ini, “Alhamdulillah ternyata masih ada orang yang peduli sama keluarga saya.”
“Lalu orang yang menolong saya ini, siapa Bu?” tanyanya penasaran. “Pokoknya ada orang yang membantumu,” jawab ibu mertua saya.
Alasan, kenapa keluarga Bapak Pujo tidak mau mengungkapkan identitasnya, karena merkea tidak ingin orang yang telah dibantunya berkunjung, sambil membawa sesuatu sebagai tanda terima kasih. Bukankah kebiasaan seperti ini sudah membudaya di masyarakat kita. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjadi bahan pembicaraan tetangga yang lain.
Tetapi setelah sekian lama ibu buruh pencuci pakaian itu mengetahui bahwa keluarga Bapak Pujo lah yang membantunya. Maka mereka pun datang ke rumahnya. “Bapak Pujo, ternyata selama ini keluarga Bapaklah yang mencukupi kebutuhan sekolah anak saya, kami mengucapkan banyak terima kasih, “katanya. “O, semua itu pemberian dari Allah SWT, saya hanya sebagai perantara dan rezeki itu memang sebagian milik anak-anak yatim dan fakir miskin. Jadi bersyukurlah kepada Allah SWT” katanya.
Keluarga Bapak pujo sadar akan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa di hari kiamat, ada beberapa orang yang akan bangkit dari kubur dalam keadaan api menyala di wajah mereka. Maka seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Maka Rasulullah membacakan firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An Nisa:10).
“Maka sebenarnya sebagian harta kami adalah milik fakir miskin dan anak-anak yatim. “katanya kemudian sambil mempersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari kejadian inilah, keluarga ibu pencuci pakaian itu semakin dekat dengan keluarga Bapak Pujo, dan Alhamdulillah keluarga Bapak Pujo bisa mengajaknya untuk selalu dekat dengan Allah. Yaitu melalui pengajian-pengajian yang sering diadakan di rumahnya. Selain siraman ruhani, hubungan silaturahmi diantara kedua keluarga itu pun semakin terjalin erat.
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya orang yang bodoh yang dermawan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang seorang ahli ibadah yang kikir.” (HR. Tirmidzi, Misykiat).
Sekarang, kebiasaan bersedekah dengan membiayai anak-anak yatim pun merambah tidak hanya tetangga sekitar, orang-orang di luar lingkungannya pun dengan seijin Allah telah dibantunya. Dan ternyata selama mereka membantu anak-anak yatim dan fakir miskin. do’a-do’anya pun begitu mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Ketagihan Keajaiban Sedekah || Novi Srikandi Almuzakki


(Kisah ini diambil dari kisah nyata Muhammad Assad, mudah-mudahan bermanfaat buat yang membacanya A.M.)
Kami keluarga biasa-biasa aja (nggak kurang dan nggak berlebihan) yg dikaruniai 4 orang anak. Alhamdulillah hidup saya dan suami ngaliiiir aja, orang bilang sih kami nggak pernah susah hehe. Mungkin aliran kehidupan kami itu karena kami menjalani ibadah kepada-Nya seperti   shalat wajib tepat waktu, sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud, shalat fajar, puasa senin kamis, puasa ramadhon, zakat, dan Alhamdulillah kami pun sudah berhaji.
Tapi sungguh, dulu dalam hal sedekah kami melakukannya hanya sekadarnya aja, meskipun kami juga selalu berusaha membantu yang membutuhkan. Namun hidayah itu datang, setiap kali kami menyaksikan tayangan nikmatnya sedekah di salah satu stasiun TV, kami baca buku-buku tentang sedekah, *termasuk juga baca Notes From Qatar* kami sungguh iri dengan orang-orang yang dengan ringannya menyedekahkan 20 juta, 25 juta, 50 juta, dst. Kami hanya bertanya-tanya, kapan ya punya duit banyak sehingga bisa sedekah banyak pula seperti itu.
Ternyata Allah Swt memberikan kesempatan itu kepada kami tanpa harus menunggu punya duit banyak. Suatu malam, tetangga sebelah rumah saya datang sambil menangis minta tolong karena anaknya kejang dan tidak sadarkan diri (saat itu anaknya usia 30 tahun dan menderita gagal ginjal). Saat itu juga dengan seadanya duit di kantong saya dan suami mengantarkan ke RS, ternyata Hb-nya hanya 3, kreatinnya 24, dan harus segera transfuse. Harga per kantong darah Rp 250 ribu, butuh 5 kantong berarti total Rp 1.250.000 dan biaya malam itu di UGS sudah habis Rp 500 ribu.
Saya dan suami saling pandang, karena uang yang kami pegang untuk sampai akhir bulan ya pas tinggal Rp 2 juta. Saat itulah sangat terasa manfaatnya nonton acara-acara dan membaca buku tentang sedekah. Kami lalu memutuskan memakai semua uang kami itu untuk membeli darah.
Subhanallah, keajaiban itu benar-benar langsung terjadi. Saat proses di UGD masih berjalan, baru 30 menit dari saat pengambilan keputusan, waktu itu jam 10 malam, kakak kami dari luar kota nelpon suami saya dan bilang, “Wo, rumahmu depan itu kan habis kontraknya masih 6 bulan lagi, tapi yg ngontrak mau pindah, rumahnya di take over sama saudaranya diperpanjang pula, ini duitnya Rp 10 juta udah aku bawa.” Subahanallah. Allah Swt langsung  menggantinya tunai.
Kejadian malam itu benar-benar titik awal keyakinan kami akan keajaiban sedekah. Kelanjutan dari nasib tetangga kami itu adalah bahwa Allah Swt memudahkan segala usaha kami untuk membantu mencarikan dana untuk cuci darah rutinnya, kami share ke facebook hingga saudara dan teman kami banyak yang berpartisipasi membantu, hingga terkumpul bantuan sebesar Rp 18 juta yang tepat habis untuk cuci darah terakhirnya sebelum meninggal.
Dengan modal keajaiban pertama itu, kami ketagihan dengan keajaiban-keajaiban lainnya. Kami memang tidak punya tabungan cash, tapi kami punya asset yg sungguh malu jika hanya kami simpan.  Kami pengen banget menikmati gimana sih rasanya sedekah dalam jumlah yang cukup besar. Terbayang kami bisa foya-foya untuk akhirat kami.  Akhirnya kami meniatkan untuk menjual  satu rumah kami, dan akan mengambil separo dari hasil penjualan aja, yg separo lagi akan kami sedekahkan.
Allah Swt pun meridhoi niat kami, lakulah rumah kami Rp 310 juta. Kami gunakan Rp 155 juta untuk siapapun yang membutuhkan saat itu, mulai dari pendirian Rumah Quran, infaq untuk pondok tahfidz, melunaskan hutang orang, menyantuni anak-anak yatim piatu, kaum dhuafa dll.
Betul-betul tidak merasa rugi sedikitpun. Sejak detik itu, sungguh sangat luar biasa rezeki yang Allah Swt limpahkan dari berbagai arah dan tidak pernah kami perkirakan sebelumnya. Apapun keinginan kami selalu dimudahkan oleh-Nya. Jika sebelumnya kami tidak pernah kekurangan, sekarang justru selalu merasa kelebihan. Nikmat yang Allah Swt berikan selalu lebih besar dari yang kami minta, dan kadang-kadang dengan cara yang nggak masuk akal.

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah || Novi Srikandi Almuzakki

Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
“Wahai istriku, engkau ingin buah apa?” tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
“Suamiku, aku ingin buah delima,” jawab Fatimah.
Maka Ali berfikir sejenak, karena ia tak ada uang sepersenpun. Dia pun berdiri serta pergi ke pasar mencari pinjaman uang satu dirham yang lalu dibelikan sebuah delima untuk istrinya Fatimah. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. “Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?” tanya Ali. “Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima,” jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
“Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah,” katanya dalam hati. Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT, “Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya.” (QS. Ad Dhuha:10).
Maka Ali lalu memberikan Buah Delima itu kepadanya. Ali pun lalu pulang dengan malu karena tak membawa buah, dan sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih hati wahai suamiku? Demi keperkasaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, sesungguhnya tatkala engkau memberikan delima itu kepada orang tua tersebut, maka hilanglah keinginanku kepada buah delima.” Maka Ali gembira dengan kata-katanya istrinya itu.
Tiba-tiba datanglah seseorang mengetuk pintu.
Tanya Ali: “Siapa ya ?”
Jawab orang itu: “Saya Salman Al-Farisi, tolong, bukakan pintu!”
Ali berdiri dan membukakan pintu, dan dia melihat Salman Al-Farisi di tangannya memegang talam yang tertutup di bahagian atasnya, serta meletakkannya di hadapan Ali.
Kata Ali: “Dari manakah ini, ya Salman?”
Jawab Salman: “Dari Allah kepada Rasul dan dari Rasul kepada engkau.”
Maka Ali membuka tutup talam itu, ternyata di dalamnya terdapat sembilan buah delima.
Maka Ali berkata lagi: “Ya Salman, kalau ini untuk saya tentunya harus sepuluh, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )
Salman al-Farisi tertawa sambil mengeluarkan sebiji delima dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di talam seraya berkata: “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”
Subhanallah Adakalanya, Allah SWT  membalas amal sedekah kita bukan dalam bentuk harta dan uang, tapi dikaruniakan kehidupan yang sejahtera dan penuh berkah, anak-anak yang sholeh dan solehah, kesehatan yang baik, keperluan yang mencukupi atau sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran kita. Ada masanya Allah simpan amalan sedekah kita sebagai pahala akhirat. Sedekah yang ikhlas kerana Allah, sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Begitu pula sedekah kepada fakir miskindhuafa, dan yatim piatu pasti dibalas oleh Allah dengan berlipat-lipat.

Bisakah Orang Miskin Bersedekah? || Novi Srikandi Almuzakki

Mungkin di antara kita selalu berpikir bahwa orang yang bisa bersedekah itu orang-orang yang kaya. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa orang kaya yang suka bersedekah lebih mulia dibandingan dengan orang miskin. Ibadahnya shalat orang kaya dengan orang miskin sama, puasanya orang kaya dengan orang miskin sama juga. Bedanya orang kaya bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya, sementara orang miskin? Jangankan bersedekah dengan kelebihan harta, dengan kebutuhan sendirinya masih kesulitan.
Suatu ketika banyak  orang miskin dari kalangan Muhajirin, dan sedikit dari kalangan Anshor tidak bisa memperbanyak amal kebaikan, karena tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Sementara mereka sering mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi yang mendorong untuk diinfaqkan/disedekahkan hartanya, memuji orang-orang yang berinfaqkan hartanya, dan menjanjikannya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Para sahabat Nabi yang kaya berlomba-lomba untuk berinfaq/bersedekah hartanya, ada yang beribu-ribu dinar, ada pula yang menyedekahkan seluruh hartanya. Rosulullah Saw. selalu mendoakan dan memohon ampunan bagi mereka yang telah mengeluarkan hartanya karena Allah.
Sementara para sahabat Rosul yang miskin, tidak bisa berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana yang dilakukan oleh sahabatnya yang kaya. Mereka berkumpul, lalu menghadap Rosul sambil bertanya, “Ya Rosulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan kami tidak. Karena mereka juga shalat sebagaimana kami shalat, mereka juga puasa sebagaimana kami puasa. Tidak ada kelebihan sama sekali dalam hal ini. Akan tetapi, mereka lebih dari kami, karena mereka bisa berinfaq dengan kelebihan hartanya. Sedangkan kami tidak memiliki apa pun yang kami infaqkan agar bisa menyusul mereka. Padahal kami benar-benar ingin bisa mencapai kedudukan mereka. Apa yang perlu kami perbuat?”
Rosulullah betul-betul memahami keinginan mereka yang kuat untuk mencapai derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Lalu beliau bersabda, “Bukannya Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhmadulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa illaha illallah)  adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan bersetubuh dengan istri juga sedekah.” Mereka kaget, lalu bertanya kembali, “Wahai Rosulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika disalurkan pada yang haram, dia berdosa?, maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.”
Subahanallah, pintu sedekah terbuka selebar-lebarnya untuk orang-orang miskin. Bahkan dalam hadist Arbain yang ke 26 mendamaikan dua orang yang bertikai secara adil pun disebut juga sedekah, bahkan menghilangkan  duri yang mengganggu para pengguna berkendaraan di jalan pun itu namanya sedekah.